INDONESIA AKAN MINTA BANTUAN MILITER DARI RRT

INDONESIA AKAN MINTA BANTUAN MILITER DARI RRT [1]

 

28 Januari 1965

 

Sejak tanggal 21 Januari Dr. Subandrio memimpin missi Dwikora ke Birma dan RRT. Sebelum berangkat ia menerangkan kepada pers Indonesia akan meminta bantuan militer dari RRT jika diserang oleh imperialis Inggris dalam rangka perjuangan menentang tiap bentuk penjajahan dan penindasan yang kini sedang dicoba keras dilakukan oleh kaum imperialis untuk menghancurkan revolusi Indonesia”.

Ia akan membicarakan soal-soal ekonomi dengan RRT sebagai kelanjutan pembicaraan dengan Wakil PM/Menteri Luar Negeri Chen Yi sewaktu berkunjung ke Indonesia belum lama berselang.

Hal ini sangat penting dalam rangka pemberian kredit $ 50 juta yang diberikan oleh RRT kepada Indonesia, kata Subandrio.

Sewaktu di Peking Dr. Subandrio berunding dengan PM Chou En Lai dan diterima oleh Ketua Mao Tse-tung. Dalam missi Subandrio ikut serta Menteri Penerangan Mayjen Achmadi, Menteri/Pangal Martadinata  Menteri/Pangak Sutjipto Danukusumo dan Menteri Negara Njoto.

Dalam sebuah jamuan makan PM Chou En-lai mengatakan antara lain : “Bila kaum imperialis Inggris dan Amerika Serikat memaksakan perang terhadap rakyat Indonesia, maka rakyat Tiongkok sama sekali tidak akan tinggal diam” Chou En-lai memuji Indonesia atas tindakan revolusionernya yang keluar dari PBB untuk menentang “Malaysia” yang merupakan produksi neo-kolonialisme dan untuk menentang lindungan kaum imperialis kepada “Malaysia ” melalui PBB.

Pada akhir kunjungan Dr. Subandrio ditandatangani di Peking sebuah pernyataan bersama yang melambangkan tingkat baru dalam perkembangan persahabatan dan kerja sama antara rakyat Cina dan rakyat Indonesia, sebuah persetujuan kerja sama teknik dan sebuah persetujuan kredit antara pemerintah RRT dan Indonesia oleh MarsekaI Chen Yi dan Dr. Subandrio. Perundingan antara kedua pihak, kata juru bicara Deparlu Ganis Harsono hari ini, diakhiri dengan kesatuan pendapat untuk tetap melawn Nekolim dengan berbagai cara. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 502-503.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*