INDONESIA AKAN KELUAR DARI PBB

INDONESIA AKAN KELUAR DARI PBB [1]

 

1 Januari 1965

 

Tahun baru 1965 dimulai dengan sebuah kejutan. Presiden Sukarno/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia menegaskan kepada seluruh dunia, “Republik Indonesia akan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) jikalau negara boneka “Malaysia” dijadikan anggota Dewan Keamanan PBB”. Penegasan itu diberikan Kamis malam menjelang tahun baru 1965 ketika Presiden memproklamasikan rakyat Indonesia bebas buta huruf.

Presiden menjelaskan ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yaitu 19 tahun yang lalu rakyat Indonesia hanya 6% yang melek huruf. Sekarang sudah 100% dengan pengertian bahwa rakyat Indonesia yang berusia 13-45 tahun telah pandai membaca dan menulis.

Saya sudah barang tentu menyangsikan sekali kebenaran keterangan perihal Indonesia bebas buta huruf ini yang pada hemat saya merupakan propaganda stunt belaka. Akan tetapi saya tidak meragukan keterangan Presiden, Indonesia akan keluar dari PBB jika “Malaysia” menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Sebab dalam hal ini dia sungguh-sungguh serius.

“Kita bukan bangsa tempe, Kita bukan bangsa kintel atau bangsa seperti karung basah yang boleh dihina dan diinjak-injak,” ujar Presiden.

Sebuah berita lain yang menarik perhatian saya ialah keterangan Sukarni Kartodiwirjo selaku Ketua DPP Murba kepada pers di Medan. Sukarni yang pernah menjadi Duta Besar di RRT mengatakan, partai Murba menentang sekeras­-kerasnya aksi-aksi sepihak yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau untuk mengatasi sesuatu kesulitan karena aksi-aksi sedemikian akan dapat membawa kehancuran total kepada persatuan nasional progresif yang sangat diperlukan dalam perjuangan kita menentang Nekolim (Neo kolonialisme imperialisme).

Untuk memecahkan sesuatu persoalan tidak perlu dilakukan si-aksi sepihak tetapi sesuai dengan Deklarasi Bogor, musyawarah dan konsultasi diutamakan dalam menghadapi berbagai kesulitan kata Sukarni. Mengapa ia memberikan keterangan ini saya tidak tahu. Tetapi Murba pasti akan merasakan akibatnya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 497-498.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*