IMRON ROSJADI DITANGKAP

IMRON ROSJADI DITANGKAP[1]

 

26 Mei 1962

Tiga hari yang lalu pukul setengah satu malam Imron Rosjadi SH ditahan oleh yang berkuasa. Imron Rosjadi ialah seorang tokoh NU. Ia pernah jadi ketua umum Pemuda Ansor akan tetapi karena dia dianggap tidak setuju dengan demokrasi terpimpin Presiden Sukarno, maka kedudukannya menjadi timpang. Berbeda dengan tokoh-tokoh NU lain seperti Zainul Arifin, Idham Chalid yang mendapat posisi mentereng dalam Pemerintah, maka Imron Rosjadi tersisih ke pinggir. Apa sebabnya ia ditangkap? Alasan yang pasti belum diketahui tentunya. Tetapi dalam masyarakat politik di Ibu Kota orang memperbincangkan hal itu gara-gara undangan dari Bagdad tempat bakal dilangsungkan Muktamar Islam Sedunia. Kongres di Bagdad itu mengundang lima tokoh Islam dari Indonesia yaitu Dr. Sukiman, Prof. Muzakir dari Yogya, K.H. Dahlan, Imron Rosjadi dan Anwar Haryono. Kabarnya komposisi “delegasi” dari Indonesia tadi menarik perhatian Peperti yang menanyakan kepada mereka mengapa mereka saja yang mendapatkan undangan dari Bagdad padahal tokoh Islam lain juga ada. Pertanyaan itu tentu tidak dapat dijawab oleh pihak yang bersangkutan. Kelima orang itu anggota bekas Masyumi dan NU yang dianggap sebagai oposisi oleh pemerintah. Apakah karena itu penguasa memutuskan menahan saja Imron Rosjadi dan dengan begitu mencegah keberangkatannya ke Bagdad? Ada pula keterangan yang mengatakan orang seperti Imron Rosjadi sudah lama namanya tercantum dalam sebuah daftar yang disiapkan oleh pihak penguasa dan kini dengan timbulnya alasan “Bagdad” tadi, maka tibalah kesempatan untuk menahannya . Manakah alasan yang benar? Entahlah. Semua mungkin di nman Manipol-Usdek ini.

Bahwa apa saja mungkin terbukti dari ceria tentang Subadio Sastrosatomo yang kini ditahan di penjara Madiun. Dr.Subandrio yang jadi ketua Badan Pusat Intelijen (BPI) dengan serius menceritakan kepada seorang ternan saya ia mempunyai bukti-bukti yang menyatakan Subadio terlibat dalam subversi ekonomi. Menurut dokumen-dokumen tadi, Subadio telah mencarter kapal-kapal yang membeli beras yang terdapat di berbagai tempat di Indonesia. Beras itu kemudian dibawa ke tengah laut dan di sana dibuang ke dalam laut. Dengan begitu persediaan beras di dalam negeri menjadi berkurang sehingga timbul kesukaran ekonomi dan kegelisahan rakyat. Dalam pekerjaan ini Subadio hanya menjadi alat perkakas belaka dari Sultan Hamid Pontianak yang menyediakan bermilyar-milyar rupiah untuk membeli beras tadi yang kemudian dibuang ke dalam laut. Percaya atau tidak, mustahil atau tidak, namun demikianlah tuduhan terhadap diri Subadio dan atas alasan itulah dia bersama Sultan Hamid kini ditahan di Madiun.

Kalau saya katakan semua itu nonsens belaka dan cerita itu hanya timbul di kepala orang yang gila, aneh·bin ajaib orang yang begitu intelligent seperti Dr. Subandrio tampaknya percaya pada cerita tersebut. Opo ora heibat? Begitulah keadaan di tanah air kita dewasa ini. Orang yang semestinya .tahu mempergunakan akal sehat sudah tidak dapat dibedakan lagi dari orang majenun .

Dalam pada itu kejadian yang menarik sekarang ialah dipecatnya Djawoto selaku Pemimpin Redaksi “Antara” oleh pihak direksi. Beberapa waktu berselang Waluyo, Kepala Seksi Newsgetter “Antara” meminta kenaikan gaji kepada direksi. Waluyo lalu dipecat oleh Pengulu Lubis, Direksi “Antara” dengan mengemukakan alasan “supaya mengutamakan kepentingan nasional di mana perlu jangan ragu-ragu mengorbankan kepentingan perseorangan atau golongan dan jangan ada yang berpikir akan terjamin.” Djawoto sedang berada di RRT ketika peristiwa Waluyo terjadi. Sekembalinya dari Peking ia menyatakan tidak setuju ,dengan kebijaksanaan direksi terhadap Waluyo. Akibatnya Djawoto dijatuhi schorsing dan ia digantikan oleh Zein Effendi.

Sesungguhnya, latar belakang kejadian itu lebih mendalam sifatnya. Di kalangan “Antara” terdapat tiga golongan yang memperebutkan “hegemoni politik” di sana yakni Murba, PKI dan Netralis. Waluyo-Djawoto dianggap condong kepada PKI. Pengulu Lubis kabarnya sudah dapat tanda okay dari Adam Malik yang walaupun kini menjabat sebagai duta besar di Moskow tetapi di belakang layar masih tetap Direktur “Antara” dan dia mau mendesak mundur pengaruh kaum komunis di dalam “Antara”. Cerita lain mengatakan RRT bermaksud hendak mendirikan semacam Komintern Asia di mana Indonesia merupakan sebuah sentrum penting dalam melancarkan usaha ini dan kantor berita “Antara” bisa berguna sekali untuk keperluan tujuan politik Peking. Hal itulah yang hendak dicegah oleh Pengulu Lubis yang kabarnya mendapat dukungan di balik layar dati berbagai instansi pemerintah. Orang seperti Muhammad Yamin yang kini menjadi Menteri Penerangan jelas tidak dapat dianggap sebagai orang yang terlalu bersimpati dengan Djawoto. Sedangkan pihak Tentara sudah lama mengetahui di kalangan “Antara” bercokol unsur-unsur komunis yang aktif sekali. Lalu dengan timbulnya bentrokan antara Djawoto dengan direksi “Antara” barangkali terbukalah kesempatan mengadakan regrouping di kantor itu? Jawab atas pertanyaan ini tentu ikut ditentukan oleh sikap PKI dan sikap Presiden yaitu apakah mereka akan membiarkan saja Djawoto dipecat selaku Pemimpin Redaksi “Antara”?(SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 219-221.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*