“IBU PERTIWI SEDANG DALAM KEADAAN HAMIL TUA”

“IBU PERTIWI SEDANG DALAM KEADAAN HAMIL TUA” [1]

 

30 September 1965

 

Kongres II CGMI dibuka tanggal 29 September dengan dihadiri oleh kira-kira 5.000 orang mahasiswa. Dapat dimengerti jika mahasiswa komunis ini menuntut supaya HMI segera dibubarkan sebab HMI di mata mereka ialah “DI-nya perguruan tinggi atau setan Universitas”.

Presidium memberikan amanatnya, pada pembukaan Kongres CGMI di Istana Olah Raga Bung Karno. Presiden menegaskan bahwa mahasiswa yang tidak progresif revolusioner harus ditendang dari kalangan kemahasiswaan sedang kalau ada organisasi mahasiswa yang tidak progresif revolusioner segera dibubarkan. Mengenai HMI, Presiden menegaskan kalau organisasi itu nanti ternyata menyeleweng, maka ia sendiri yang akan membubarkannya. Ia telah mencatat gerak-gerik HMI selama ini setelah diperbolehkan oleh KOTRAR untuk berjalan terus dan ia tetap akan mengawasinya.

Dalam Rapat Umum CGMI itu Wakil PM II Dr. J. Leimena menerangkan supaya jangan mempersoalkan tentang HMI akan tetapi dia diteriaki oleh hadirin. Yang menarik perhatian ialah ketika Ketua PKI D.N. Aidit berpidato dan menyatakan kepada para mahasiswa CGMI, mereka itu barus memakai sarung jika HMI tidak dapat dilenyapkan. Ucapan Aidit ini jelas bersifat menantang terhadap pemerintah yang sampai saat itu menempuh kebijaksanaan tidak membubarkan HMI. Apakah sebabnya Aidit menjadi begitu berani? Wallahu’alam.

Sementara itu Anwar Sanusi dari PKl dalam sambutannya pada penutupan Latihan Sukwan Bantuan Tempur BNI mengatakan :

“Kita sekarang berada dalam situasi di mana Ibu Pertiwi sedang dalam keadaan hamil tua. Sang Paraji, Sang Bidan sudah siap dengan segala alat yang diperlukan untuk menyelamatkan kelahiran Sang Bayi yang lama dinanti-­nanti. Sang Bayi yang akan lahir dari kandungan Ibu Pertiwi itu adalah suatu kekuasaan politik yang sudah ditentukan dalam Manipol yaitu kekuasaan gotong-royong yang berporoskan Nasakom bersoko-guru buruh dan tani.”

Apa pula artinya ucapan Anwar Sanusi ini? Saya tidak tahu akan tetapi dapat merasakan suhu politik sedang naik. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 546-547.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*