IA MENANGIS DI DEPAN KACA

IA MENANGIS DI DEPAN KACA[1]

 

 

4 Februari 1961

 

Ada sebuah kisah tentang seorang anggota pergerakan. Di zaman penjajahan Belanda ia ikut dalam Partai Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Ir. Sukarno. Ia seorang nasionalis yang berani. Ia tidak mau bersikap sebagai koperator, kerjasama dengan pemerintah Belanda.

Garis perjuangannya selalu non-koperator. Ketika PNI dibubarkan oleh Mr. Sartono, setelah Ir. Sukarno ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1929, maka dia menentang tindakan Sartono itu.

Ia menggabungkan diri ke dalam barisan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru yang dipimpin oleh Sjahrir dan kemudian oleh Hatta , setelah Hatta kembali ke tanah air dari Negeri Belanda. pada tahun 1934 ketika Sukarno sudah dibuang ke Endah di Flores , Hatta dan Sjahrir diasingkan ke Boven Digul maka dia pun dibuang ke Boven Digul.

Hatta dan Sjahrir kemudian dipindahkan ke Banda Neira , Sukarno dipindahkan ke Bengkulu tetapi dia mendekam terus di tengah rawa-rawa malaria di Boven Digtil. Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang menyatakan perang kepada Amerika Serikat, Inggris dan Belanda dan dalam waktu sekejap Hindia Belanda jatuh ke tangan balatentara Dai Nippon.

Ia sempat diungsikan oleh Belanda ke Australia dan selama masa perang dia berada di benua itu. Begitu perang selesai dan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tersiar luas dia pun bergegas kembali ke tanah air dan segera menceburkan diri ke tenga kancah perjuangan.

Dia menemui Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir dan di bulan-bulan November dan Desember 1945 ketika Surabaya dibom oleh Inggris, di Ambarawa pecah pertempuran, di Bekasi pesawat terbang RAF ditembak jatuh, dia menduduki jabatan dalam pemerintahan yaitu sebagai Menteri Muda Pertahanan dan Keamanan.

Zaman beredar terus. Dulu dia berhubungan baik dengan Sukarno tetapi kemudian Presiden tidak mengacuhkannya lagi.

Ia tidak berhasil menyelamatkan kehidupan materinya, keadaan keuangannya korat-karit dan dia hidup di sebuah kampung di Jakarta, praktis sudah dilupakan orang.

Alkisah pada suatu hari dia berdiri di depan sebuah kaca memandang wajahnya sendiri yang mulai tua renta berkerut dan sambil menangis terisak-isak dia bertanya kepada, wajahnya itu:

“Apakah yang telah tercapai oleh kau sampai sekarang? Bagaimanakah hidupmu sekarang? Rakyat yang kau perjuangkan nasibnya sejak dulu tidak berubah-ubah penghidupannya. Rakyat itu tetap jembel. Orang lain korupsi, orang lain jadi pemimpin, hebat-hebat kedudukan mereka, padahal tidak sedikit di antara mereka yang tidak pernah berjuang dulu. Sedangkan kau, apalah yang kau capai?”

Demikianlah seorang anggota pergerakan Indonesia yang berdiri di depan sebuah kaca dan tidak sama halnya seperti putri dalam dongeng yang bertanya:

Spiegel, spiegel, wie is de schoonste van het land (“Kaca , kaca, katakan siapakah yang paling cantik di negeri ini”). Dia malahan menangis, mencurahkan isi kalbunya yang tertekan oleh keadaan yang tengah menimpa bangsa dan negaranya. .

Nama orang itu : Murad. Ingatlah kisahnya ini. (DTS)

 

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 8-10.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*