“HIJ HEEFT GELIJK”

11

“HIJ HEEFT GELIJK”[1]

 

16 April 1962

 

Malam Minggu yang lalu saya dengar dari Haryono sama sekali ada 23 orang yang ditangkap oleh Peperti baru-baru ini. Waktu saya tanya mengapa orang-orang itu ditangkap, Haryo­ no hanya menjawab:

“Die lui zijn in een onprettige bui nu.

(Mereka itu kini lagi dalam suasana tidak sedap). Siapa orang-orang yang ditangkap itu tidak diketahui dengan persis. Saya dengar Achmad Husein beserta keluarganya masih berada di Cipayung. Begitu juga Zulkifli Lubis. Konon Achmad Husein kepingin membaca buku James Mossman Rebels in Paradise yang menceritakan tentang PRRI-Permesta. Seorang ternan saya yang telah membaca buku tersebut menceritakan isinya kepada Achmad Husein yang lalu memberi komentar :

“Hij heeft gelijk, dat is waar, zeg” (Ia benar, itu betul lho).

Ia ingin tahu apa yang ditulis selengkapnya oleh James Mossman. Tetapi buku itu kini sedang dibaca oleh Zulkifli¬∑ Lubis yang menjadi tetangga Achmad Husein di Cipayung. Reaksi Zulkifli Lubis menarik juga. Kabarnya ia berkata kepada seorang ternan saya: “Buku ini sangat informatif isinya.” Lubis berniat hendak menulis sebuah komentar atas isi buku James Mossman. Saya juga tabu tatkala Mohammad Natsir tiba di Jakarta dari Padangsidempuan beberapa waktu yang lalu dia berusaha mendapatkan buku James Mossman untuk dibacanya.

Zulkifli Lubis pernah bertukar pikiran dengan A.H. Nasution. Ditanyakannya apakah yang akan diperbuat oleh Nasution dalam menyalurkan bekas tokoh-tokoh PRRI-Permesta, di dalam makna menggunakan tenaga mereka? Kabarnya Nasution tidak memberi jawaban .

Kabar dari Belanda, tanggal 13 Maret lalu cabinet. Belanda bersidang selama sepuluh setengah jam dan mencapai kesimpulan. Adapun usul-usul Ellsworth Bunker untuk menyelesaikan soal Irian Barat tidak dapat mereka terima begitu saja tanpa harus diberi beberapa amandemen .

Menurut “UPI” Belanda tetap menuntut diberikannya self determination kepada rakyat Irian Barat yang asli dan telah mengundang 4 orang anggota “Dewan Papua ” untuk datang berkonsultasi ke Belanda.

Perundingan Indonesia-Belanda secara informal rahasia yang tadinya hendak dilanjutkan lagi tanggal 13 April tampaknya tertunda. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 210-211.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.