HIDUP INI SEPERTI CAKRA

HIDUP INI SEPERTI CAKRA[1]

 

 

17 Februari 1961

Kami mulai berpuasa hari ini. Satu Ramadhan jatuhnya pada hari Jumat. Saya terkejut mendengar dari A.K. Loebis, semalam Charles Thambu berkirim surat kepadanya. Ia minta dipinjami uang guna keperluan belanja rumah tangganya. “Satu sen pun tidak ada di rumah,” tulis Charles. Bayangkan, Charles yang beragama Islam memasuki Ramadhan 1380 Hijriyah dalam keadaan payah demikian.

Charles Thambu mengalami nasib serupa dengan kami. Surat kabarnya Times of Indonesia sudah sejak 1 November 1960 tidak diizinkan terbit. Bulan yang lalu ketika saya bertemu dengan Charles di sebuah resepsi di Hotel des Indes tampaknya dia tetap gembira. “Hidup ini seperti cakra,” katanya. Sekali di atas, sekali di bawah, ibarat roda pedati. Pada tahun 1947, Charles Thambu bersama-sama Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Sumitro Djojohadikusumo dan Sudjatmoko pergi ke Lake Success.

Di markas besar PBB mereka membela perjuangan bangsa Indonesia dan mengadukan agresi militer Belanda yang ke I di mimbar internasional itu. Kemudian Charles Thambu jadi Konsul Jenderal RI di Manila, akhirnya kembali ke Jakarta memimpin surat kabar Times of Indonesia sampai saat dilarang terbit.

Ketika beberapa hari lalu saya bercakap-cakap dengan Charles Thambu di rumahnya di Kebayoran, kelihatan benar kemuramannya. Ia berkata keadaan dan iklim di tanah air kita tidak akan berubah ke arab perbaikan buat masa yang masih lama lagi. Rezim otoriter akan berlangsung lama, paling sedikit satu generasi. “Kita ini suatu generasi yang hilang. We are a lost generation, ” ujar Charles Thambu. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 11-13.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*