“HET SUBJECTIEVE RECHT” YANG BERLAKU

“HET SUBJECTIEVE RECHT” YANG BERLAKU [1]

 

27 Maret 1962

Jelas sekarang Sjahrir dan kawan-kawannya akan ditahan untuk waktu yang lama sekali. ”Het zal nog lang duren,” kata seorang pejabat Peperti (Penguasa Perang Tertinggi) kepada Nyonya Sjahrir kemarin ketika ia datang ke kantor Peperti. Perwira itu berkata Sjahrir tidak di lnternir tetapi hanya di isolasikan.

Hal ini dilakukan untuk keamanan diri Sjahrir sendiri. Sjahrir tidak diizinkan menerima tamu, juga tidak keluarganya. Korespondensi dengan Sjahrir dan kawan-kawannya diperbolehkan melewati Peperti.

Sjahrir kini ditahan di bui besar Madiun. Nyonya Sjahrir mengajukan protes atas perlakuan terhadap suaminya. Ia mengatakan para istri kaum tahanan politik tentu merasa tidak puas dengan cara hukum yang dilaksanakan terhadap mereka.

Orang-orang itu ditahan begitu saja tanpa menghindahkan due process of law. Tetapi perwira staf Peperti tadi tanpa tedeng aling-aling memberikan keterangan kini memang tidak berlaku lagi yang dinamakan het objectieve recht melainkan het subjectieve recht berdasaran Keadaan Bahaya Perang atau SOB.

Semalam saya menonton film sutradara Stanley Kramer Judgement at Neuremberg dengan aktor-aktor seperti Spencer Tracy, Richard Widmark, Montgomery Clift, Burt Lancaster. Film itu melukiskan bagaimana sejumlah hakim dari zaman Das Dritte Reich di bawah Nazi Hitler diadili oleh sebuah tribunal militer Amerika pada tahun 1948. Problematik yang dilukiskannya mengingatkan orang akan zaman Manipol-Usdek sekarang.

Saya berpendapat para hakim dan jaksa, pejabat-pejabat di staf Peperti perlu melihat film tersebut supaya mendapat pemandangan yang tepat tentang pekerjaan yang mereka lakukan sekarang. Sesuaikah dengan keadilan apa yang mereka lakukan sekarang dengan memperlakukan hukum secara mekanis belaka tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan ?

Dari Irian Barat terdengar berita tentang adanya pertempuran lagi antara kapal Indonesia dengan pesawat terbang Belanda di sekitar Teluk Etna. Menurut “Reuter”, Laksamana Muda Belanda Reeser menerangkan di Kotabaru, kapal Indonesia yang diserang itu berukuran 75 ton.

Hari ini Presiden menerangkan Tri Komando berjalan terus dan bahkan harus dipergiat (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 197-199.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*