“HENDAK KE MANA KITA INI?”

“HENDAK KE MANA KITA INI?”[1]

 

23 September 1961

Kemarin istri saya mengatakan dia menawar mangga di Pasar Cikini dan harganya Rp 175,00 untuk 10 buah. Tentu dia tidak jadi membelinya. Ia cuma bertanya: “Hendak ke mana kita ini?” Saya pun tak dapat menjawabnya.

Memang susah mengurus penghidupan dengan harga-harga demikian. Saya dengar keadaan Bung Sjahrir yang notabene menjabat sebagai Perdana Menteri di awal zaman revolusi.

Pemimpin itu kini sering tidak punya uang cukup di rumah untuk membeli beras. Begitulah susahnya hidupnya.

Sebaliknya, kalau saya dengar cerita tentang orang-orang yang main poker (berjudi) di Jakarta, waduh bukan main banyaknya uang mereka. Ada yang datang ke meja judi dengan uang sebanyak Rp 800.000,00 dan pangkatnya kapten.

Ada yang kalah setengah juta sekali main, dianggapnya itu perkara biasa. Seorang kolonel dengan mudah membeli arloji tangan emas merk Rolex dengan harga Rp 100.000,00.

Suatu kontras, bukan? (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 101-102.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*