HATTA DIDEMONSTRASI OLEH PKI

HATTA DIDEMONSTRASI OLEH PKI [1]

 

12 April 1962

Bung Hatta tiba kembali di tanah air tanggal 8 April lalu setelah kurang lebih sebulan pergi ke luar negeri. Ketika tiba di lapangan terbang Kemayoran dia disambut oleh antara seratris dan dua ratlis pemuda yang dikerahkan oleh PKI untuk mengadakan demonstrasi anti Hatta . Mereka membawa berbagai poster. Bunyinya :

“Hatta tetap Hatta, Belanda tetap Belanda”, “Bung Hatta berevolusilah “, “Bung Hatta jangan bermuka dua”.

Ada pula poster yang menyatakan pemuda-pemuda itu akan bertempur di Irian Barat.

Para demonstran yang bersifat liar itu berkumpul di muka kamar VIP lapangan terbang Kemayoran . Mereka dekat benar berdiri di sana. Hatta tenang saja tampaknya, malah sambil melangkah menuju mobil dia berkata kepada para demonstran :

“Saya tetap Hatta”, “Muka saya cuma satu “.

Waktu Hatta sudah ada di mobil , para demonstran berteriak :

“Mari serbu naik mobil !”

Tetapi hal ini dicegah oleh beberapa orang petugas keamanan yang berpakaian preman . Setibanya di rumah Hatta disambut oleh poster-poster yang dibawa oleh para demonstran lain . Sekretaris Bung Hatta , Wangsawidjaya segera menelepon polisi dari Seksi 5 untuk memberitahukan tentang kejadian itu. Beberapa orang polisi lalu dikirim untuk berjaga-jaga di depan rumah Hatta .

Beberapa had kemudian Djuir Muhammad mengunjungi Hatta dan mereka bercakap-cakap tentang berbagai topik. Menurut Djuir , Hatta menceritakan soal penangkapan terhadap Sutan Sjahrir dan kawan-kawannya menjadi perhatian besar di luar negeri. Antara lain PM Nehru membicarakan hal itu dan menyatakan kekuatirannya di depan Hatta tatkala Hatta singgah di New Delhi. Atas pertanyaan apakah yang diperbuat oleh Bung Hatta sekarang mengenai penangkapan itu , ia menjawab :

“Sesuatu mesti diperbuat tetapi kini soal Irian Barat ada di tengah-tengah  kita.”

Pendapat Hatta tentang soal  Irian Barat sekarang agak militant sifatnya . Ia tidak setuju dengan cara-cara perundingan informal yang dilakukan sampai sekarang. Ia menganggap usul-usul Ellsworth Bunker “terlalu kurang” dan “kalau saya yang jadi pemerintah saya akan tolak “. Hatta berpendapat kita mesti pukul dulu Belanda di Irian Barat , kemudian baru berbicara . Tetapi dia insyaf juga Sukarno dan Tentara tidak atau belum mau memukul. Kepada orang orang Belanda, Amerika dan lain-lain yang dia temui di Konferensi Wina yang dihadirinya itu , Hatta menyampaikan pendiriannya , soal Irian Barat harus diselesaikan. berdasarkan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia . Makin lama hal itu ditunda , makin menguntungkan bagi kedudukan kaum komunis yang bisa memanipulasi terus diri Sukarno, demikian pendirian Hatta. Mengenai soal Irian Barat, sikap kita tak boleh tidak berdiri sepenuhnya di belakang kebijaksanaan pemerintah , ditambahkan oleh Hatta.

Karena adanya soal Irian Barat er tussen in, maka Hatta belumlah melihat sesuatu cara bagaimana dapat berbuat untuk Sjahrir dan kawan-kawannya. Jadi mereka akan mendekam terus di penjara Madiun . Hari ini saya dengar orang membicarakan bahwa pagi kemarin dulu pihak yang berkuasa menangkap Hasan Kalimadu , pedagang , politikus dan penerbit bekas surat kabar Nusantara. Orang jadi heran mengapa Hasan yang di zaman Yogya dulu bernama Ismail dan menjadil sekretaris Tan Malaka sampai ditangkap? Bukankah dia masih dekat dengan Chaerul Saleh? (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 204-205.

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*