“HASIL-HASIL POSITIF” PENGUASAAN SOB

“HASIL-HASIL POSITIF” PENGUASAAN SOB [1]

 

4 November 1962

 

Hari ini Presiden Sukarno tiba di Tokio untuk beristirahat – selama tiga minggu. Untuk perjalanan ke luar – negeri itu diperlukan biaya sebanyak 250.000 dolar Amerika. Indonesia praktis tidak mempunyai devisa dewasa ini sehingga dolar yang diperlukan tadi harus dibeli secara gelap kemudian ditransfer ke luar dengan perantaraan para pedagang. Kalau diketahui kurs 1 dolar kini sama dengan Rp 1.000,00 maka dapat dihitung sendiri berapa jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk mengongkosi perjalanan Presiden .

Jenderal A.H, Nasution mengadakan peninjauan ke Sumatra Utara. Tanggal 31 Oktober ia mengadakan briefing dengan Catur Tunggal Sumatra Utara. Ia menjelaskan:

“Presiden telah memutuskan bahwa keadaan darurat harus berakhir di seluruh negara sebelum penyerahan resmi Irian Barat kepada RI. Ini berarti tanggal 1 Mei 1963. Tetapi penghapusan SOB tidak berarti bahwa keadaan lama kembali. Presiden sebagai Pimpinan Revolusi tetap memegang kekuasaan yang mutlak seperti di masa sebelumnya. Dengan demikian dapat tetap dijamin follow-up keamanan pembasmian subversif dan kontra revolusi, operasi ekonomi dan lain-lain.”

Jelas dari ucapan Nasution bahwa penghapusan SOB tidak otomatis berarti kembali berkuasanya re2im partai-partai politik.

PNI, NU dan PKI yang mengharapkan berkuasa kembali setelah hapusnya SOB tentu akan kecewa dibuatnya. Dalam pada itu yang mengherankan kalangan politik di Ibu Kota ialah mengapa Tentara menerima begitu saja penghapusan SOB? Tanggal 2 November Kolonel Sutjipto yang menjadi Pengganti Sementara Kepala Staf Peperti menyatakan penghapusan SOB adalah suatu hal yang wajar, bukan karena adanya akses-akses yang tidak tertahankan, melainkan karena intensitas keadaan tidak memerlukannya lagi.

Apabila kita meninjau secara keseluruhan terhadap fakta-fakta penguasaan Keadaan Bahaya selama ini dan tidak hanya melihat pada nada-nada negatif saja, maka akan tampak oleh kita bahwa SOB selama ini adalah tidak mengecilkan hati. Kolonel Sutjipto lalu memberikan perincian tentang apa yang dianggapnya basil-basil positif daripada penguasaan Keadaan Babaya yakni :

  1. usaha penyederhanaan kepartaian ;
  2. pembubaran partai-partai yang telah melakukan  penye- lewengan;
  3. penertiban pers dari sifat-sifat pers liberal;
  4. penyensoran terhadap gerakan subversif ;
  5. pembubaran organisasi-organisasi subversif internasional;
  6. pengawasan orang asing dalam rangka mencegah gangguan subversif ;
  7. pencegahan terhadap pemogokan dan pengambilalihan liar
  8. rehabilitas pembangunan daerah dalam rangka kelanjutan pemulihan keamanan;
  9. penampungan masalah pemberontak dan gerombolan yang menyerah ;
  10. pengamanan dan pengawasan di bidang Finek (ekonomi­keuangan), terutama dalam hal Swa Sembada Pangan, antara lain produksi gula dan pengumpulan padi;
  11. pengerahan sukarelawan ;
  12. peradilan dan penindakan terhadap oknum-oknum kon­ tra-revolusioner yang antara lain oknum-oknum itu ada yang hendak mengambil jiwa Pemimpin Besar Revolusi kita ;
  13. penyiapan komponen-komponen Brigade Pembangunan untuk Irian Barat dan lain-lain lagi. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 271-273.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*