“HARI MANIPOL”

“HARI MANIPOL”[1]

 

13 April 1961

Kepala berita:

“Uni Soviet meluncurkan dan mengembalikan ke bumi kapal ruang angkasa yang pertama membawa manusia. Penerbangnya ialah Mayor Gagarin”.

Sumber : kantor berita “Tass”. Tersiar pagi ini di koran-koran Jakarta. Maka hari kemarin yakni tanggal 12 April 1961 harus dicatat sebagai hari penting dalam sejarah umat manusia, khususnya dalam usaha menaklukkan ruang angkasa.

Kapal ruang angkasa yang pertama membawa manusia itu diberi nama “Vostok” dan penerbangan Gagarin yang berusia 27 tahun berlangsung selama 1 jam 48 menit. Tidak syak lagi semua ini suatu kemenangan teknologi Uni Soviet .

Di dalam negeri tanggal 12 April juga membawa berita gembira bagi PKI. Sebab pada hari itu Presiden/Panglima Tertinggi selaku Peperti (Penguasa Perang Tertinggi) memanggil ke lstana lima orang anggota CC PKI yakni D.N. Aidit, M.H. Lukman, Njoto, Sudisman dan Ir. Sakirman dan kepada mereka diberitahukan mereka tidak akan dituntut di muka sidang pengadilan.

Perkara mereka dibekukan dengan syarat atau apa yang dinamakan dengan istilah voorwaardelijke deponering. Adapun tindak pidana yang dimaksud di sini ialah statement PKI tanggal 8 Juli 1960 yang disiarkan lewat Harian Rakyat dan lewat brosur-brosur yang ‘memuat penilaian PKI terhadap kebijaksanaan kabinet kerja.

PKI di situ mengecam beleid beberapa menteri Kabinet Kerja seperti Nasution, Subandrio, Yamin, Ipik, Maladi, Ahem Erningpradja, Djuanda. Di situ PKI juga menyatakan tidak setujunya dengan beleid keamanan yang dilakukan oleh Tentara.

Sebagai akibat statement tadi Peperda Jakarta Raya mengadakan verhoor terhadap kelima anggota CC PKI tadi. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada alasan menuntut orang-orang itu di muka pengadilan. Akan tetapi kini berkat intervensi Presiden, para pemimpin PKI tidak jadi dituntut. Cukuplah mereka diberi “teguran dan peringatan keras saja.”

Dalam pada itu dapatkah saya mengatakan tanggal 12 April 1961 itu ialah juga “Hari Manipol”? Ini berdasarkan sebuah berita “Antara” berjudul “Konsternasi di Jalan Braga”.

lsi beritanya:

“Seorang laki-Iaki ganteng, berpakaian khaki-drill potongan seragam, berbintang 7 atas latar hijau pada tiap bahunya  3 lambang Bhineka Tunggal Ika, lalu tulisan Manipol di bawahnya dan strip-strip tanda jasa Merah Putih pada dada kanannya, pagi tadi menimbulkan konsternasi dan hambatan lalu lintas di Jalan Braga, Bandung. Mobil-mobil distopnya, orang-orang dikumpulkannya dan orang laki-laki yang ditaksir berumur 30 tahun itu dengan berdiri di atas bumper belakang sebuah sedan hendak berpidato. Tetapi kemudian ia dipegang oleh seorang anggota Tentara yang terus menyerahkannya kepada Polisi. Dalam pemeriksaan, jawabannya simpang siur. Ia mengaku diri “jenderal polisi” bernama “Manipol”.

Akhirnya polisi menganggapnya berjiwa tidak waras dan menyerahkannya kepada Jawatan Sosial. Dapat dikabarkan bahwa tatkala ia berjalan di tempat ramai, sebelum diserahkan kepada yang berwajib , ada beberapa anggota alat negara yang tercengang melihatnya, bahkan ada pula yang mengira ia orang baik-baik yang berpangkat sehingga menyaluwirnya.”(DTS)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 32-34.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*