GUGURNYA JOS SUDARSO

GUGURNYA JOS SUDARSO[1]

 

18 Januari 1962

Di antara awak kapal “RI Matjan Tutul” yang ditangkap oleh Belanda “Evertsen” terdapat jenazah-jenazah Deputy KSAL Komodor Jos Sudarso dan nakoda Wiratno yang kedua-duanya telah gugur dalam pertempuran di Kepulauan Aru. Jenazah mereka dimakamkan di Kaimana, di bumi Irian Barat. Demikian berita “DPA” malam ini yang mengutip laporan resmi Departemen Pertahanan Belanda.

Jos Sudarso sudah gugur. Menurut keterangan pihak Penerangan Angkatan Laut pagi ini adanya Jos Sudarso di MTB “Matjan Tutul” tadi menunjukkan dengan jelas “kesatuan patroli ALRI tidak mempunyai sifat agresif karena mustahillah satuan-satuan sekecil demikian dibawahi langsung oleh Deputy KASAL.” Josaphat Sudarso sebetulnya m·empunyai karir gemilang di hadapannya dan saya dengar dia tentu akan menjadi KSAL yang akan datang jika dia tidak keburu gugur.

Mengenai perkembangan soal Irian Barat di bidang diplomasi Subandrio menyatakan siang tadi “Hingga kini belum ada kemajuan substansial”. Keterangan ini diberikannya dalam hubungan usaha pejabat Sekjen PBB U Thant yang giat menyerukan kepada Indonesia dan Belanda untuk merundingkan di PBB persengketaan mereka.

Permintaan U Thant itu ialah permintaan yang ketiga kalinya dalam waktu satu bulan. Indonesia hingga kini tetap berpendirian “Indonesia mau berunding atas dasar penyerahan Irian Barat kepada pemerintah Indonesia.”

Menteri Luar Negeri Subandrio tadi pagi menerima kunjungan duta besar Uni Soviet Mikhailov dan kepada pers diterangkannya kemudian “telah dibicarakan beberapa hal sekitar pengiriman pembelian-pembelian Indonesia di Uni Soviet, khususnya pembelian perlengkapan untuk angkatan bersenjata kita.” Duta Besar RI di India Mukarto Notowidagdo dalam pidatonya di depan “Indian Press Club” di New Delhi kemarin menerangkan ketika menjawab beberapa lama waktunya suatu aksi militer terhadap Belanda di Irian Barat akan berlangsung. “Dua minggu pun sudah dipandang terlalu lama.” Sedangkan Sekretaris Negara Mr. lcksan mengatakan ‘kepada seorang yang menghubungi dia, “Bung Karno kini seperti celeng ketaton”. Begitu besamya amarah Presiden setelah mendengar berita tentang pertempuran di laut sekitar Kepulauan Aru.

Bagaimanakah reaksi di pasar dan di dunia dagang terhadap kejadian-kejadian belakangan ini? Saya catat sebelum pertempuran di laut sekitar Aru nilai Straitsdollar dengan kurs bebas adalah Rp 120,00 sesudah itu naik menjadi Rp 135,00. Harga emas sekarang· Rp 500,00 per gram, naik dengan Rp 50,00 per gram. Harga barang-barang impor naik. Brylcreem yang tadinya harganya Rp 80,00 kini naik jadi Rp 135,00. Harga roti tawar Rp 40,00 sebuah. Harga beras Brazil kini Rp 60,00 per liter.

Akan tetapi Latihan Kemiliteran Pegawai Sipil berjalan terus. Seorang teman saya mendapati di Kantor Urusan Pajak hanya tiga orang yang bekerja. Selebihnya sedang latihan militer.

Kabar tentang penangkapan atas diri Sjahrir mulai tersiar dalam masyarakat. Radio Hilversum menyiarkannya dengan menyebutkan nama mereka yang ditahan. Terdapat kabar Sultan Hamid dari Pontianak turut ditangkap. Seorang teman saya yang menghubungi Dr. Subandrio menerangkan bahwa menurut Subandrio dia tidak tahu suatu apa tentang penangkapan-penangkapan itu. “Nasution ,” ujar Subandrio yang rupanya mau menggeser tanggung jawab ke atas pundak Tentara. Nasution di pihaknya konon mengatakan kepada seorang perwira :

“Saya telah di fait-accompli-kan.”

Menurut cerita Sekretaris Negara Mr. lcksan rupa-rupanya terjadi hal sebagai berikut :·

Tanggal 15 Januari petang Panglima Hasanuddin Kolonel M. Jusuf datang ke Istana melaporkan kepada Presiden Sukarno tentang hasil penyelidikan terhadap “Peristiwa Cendrawasih” di Makasar. Ada dua orang warga negara Belanda ditangkap. Dalam pemeriksaan mereka mengakui bahwa kalau Wakil Presiden RPA Hakim Amir berkunjung, maka akan terulang lagi pelemparan granat terhadap Presiden. Karena itu Presiden menjadi marah dan malamnya dia perintahkan kepada komandan CPM untuk melakukan penangkapan­penangkapan. Perintah ini diberikan oleh Presiden di depan. Jenderal Nasution yang harus menandatangani surat perintah tahanan. Kemudian Presiden mendengar pula tentang pertem puran laut di Aru. Dia lantas seperti “celeng ketaton” seperti dikatakan oleh Mr. Icksan .

Bila didengar begini ceritanya, maka kelihatannya penang­kapan terhadap diri Sjahrir itu   dilakukan atas perintah Presiden Sukarno sendiri. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 158-161.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*