Gerakan PKI Illegal (Pasca Pemberontakan 1926)

Gerakan PKI Illegal (Pasca Pemberontakan 1926)[1]

Sesudah pemberontakan gagal (Pasca Pemberontakan 1926), pimpinan dan kader-kader PKI yang tinggal bercerai berai menyelamatkan diri dari kejaran Polisi Pengawasan Politik. Dua tahun kemudian, pada 1928 terdapat tanda­tanda PKI mulai bangkit kembali, sekalipun dengan jaringan yang amat terbatas. Mereka membentuk Sarekat Kaum Buruh Indonesia (SKBI). Aktivitas mereka dicurigai dan sebagian pimpinan SKBI ditangkap. Pada tahun 1932 mereka mencoba bangkit dengan memperkuat organisasi sel, yang disebut komite persatuan.[2] Komite ini terus-menerus melancarkan tuntutan revolusioner.

Pada bulan Juli 1932, komite ini mengeluarkan 18 pasal program tuntutan antara lain: pertama, pembentukan pemerintahan buruh dan tani, kedua, segera bebaskan semua narapidana politik, dan tahanan. Hapuskan kamp konsentrasi Digul dan kembalikan pemimpin yang dibuang, ketiga, bebas mengadakan aksi-aksi politik, mogok dan demontrasi bagi organisasi revolusioner, serta kebebasan penuh bagi gerakan buruh dan tani.

Perkembangan gerakan bawah tanah komunis tidak dapat dilepaskan dari perkembangan komunis internasional. Di Eropa pada tahun 30-an muncul kekuatan dunia baru yang dipelopori oleh Hitler di Jerman dan Mussolini di Italia. Kedua gerakan ini bertumpu pada satu ideologi yakni fasisme.[3]

Bangkitnya fasisme baik di Jerman maupun di ltalia menyadarkan Stalin bahwa fasisme lebih berbahaya daripada kapitalisme, terutama menjadi ancaman langsung terhadap negara Uni Soviet.Untuk itu perlu digalang kerjasama dengan golongan kapitalis yang bersikap anti fasis. Akhirnya diputuskan untuk sementara menghentikan permusuhan dengan kapitalis, selanjutnya menggalang kerjasama untuk melawan fasis. Perubahan sikap ini tercermin setelah terpilihnya Dimitrov sebagai pimpinan baru Komintern pada tahun 1935 Sikap Komintern ini dikenal sebagai garis Dimitrov.

Untuk menje1askan garis baru ini kepada partai komunis se1uruh dunia, Komintern mengirimkan sejumlah tokoh-tokoh lokal yang berada di Moskow kembali ke negara masing-masing. Musso dikirim ke Indonesia. Pada tahun itu juga Musso telah berada di sekitar Surabaya. la mengumpulkan sisa-sisa kader komunis yang melakukan gerakan bawah tanah, antara lain Ngadmo (Armunanto), Pemudji, Azis, Sukayat, Djoko Sudjono, Achmad Sumadi, Sukindar, Sutrisno, dan Suhadi. Musso kemudian membentuk Central Comite (CC) PKI baru pada 1935 (selanjutnya disebut dalam buku ini sebagai PKI -35). Mr. Amir Sjarifuddin dan Tan Ling Djie berhasil dibina oleh kelompok ini.

Pada tahun 1938, jaringan PKI-35 terbongkar. Achmad Sumadi, Sugono, dan Harjono, tertangkap dan dibuang ke Boven Digul, Ke1ompok PKI-35 akhirnya terpecah be1ah. Pamudji, Sukayat,Abdul Azis dan Abdulrakhim meneruskan kerjanya sampai 1943.

Sejak kedatangan Musso, sikap PKI mulai berubah, tidak lagi menyuarakan tuntutan-tuntutan radikal revolusioner. Ketika Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) terbentuk pada 1937, kader-kader PKI memasuki organisasi ini.Sekalipun Gerindo menganut azas koperasi dengan Pemerintah Hindia Be1anda, namun sikap tegasnya memusuhi fasisme te1ah menarik perhatian kader PKI. Akhirnya lewat organisasi ini lahirlah perhatian kader PKI, antara lain Mr. Amir Sjarifuddin, anggota pengurus Gerindo dan Wikana, pimpinan Pemuda Gerindo. Aktivitis lain yang juga digodok dalam Gerindo adalah D.N. Aidit, Anwar Kadir, Nungtjik AR., Ir. Sakirman, Sidik Kertapati, Sudisman, Sudjoyono, Tjugito, dan Mr. Joesoeph.[4]

Melalui berbagai kursus, kader-kader PKI digembleng dalam Gerindo, bahkan Gerindo diakui sebagai proyek PKI. Generasi baru ini kemudian dipimpin Mr. Amir Sjarifuddin yang selanjutnya disebut kelornpok Arnir Sjarifuddin. Tetapi pada 1940 Mr. Arnir Sjarifuddin ditangkap oleh Pernerintah Hindia Belanda karena kegiatannya dalarn PKI ilegal. la disuruh rnernilih dibuang ke Digul atau bekerja sarna dengan pihak Belanda. Untuk rnenyelarnatkan partainya Mr. Arnir Sjarifuddin rnernutuskan rnernilih bekerja sarna dengan pihak Belanda. Kemudian ia diangkat sebagai pegawai Departernen Urusan Ekonorni, di bawah pirnpinan Van Mook.[5] Pada kesernpatan ini Mr. Arnir Sjarifuddin dihubungi oleh van der Plass, diberi uang sebesar F. 25.000 (gulden) agar rnenyusun jaringan bawah tanah anti fasis.

Sebelum itu telah diadakan pertemuan rahasia antara pemimpin pergerakan seperti dengan dr. Tjipto Mangunkusurno, dengan kader­-kader PKI, yang rnermbahas perjuangan selanjutnya apabila Belanda kalah dari Jepang. Perternuan pertama diadakan di Rawamangun, rnermbahas petunjuk-petunjuk dr. Tjipto, yang rnenyatakan bahwa hanya rakyat Indonesia yang mampu rnelawan fasisrne Jepang. Pertemuan dipimpin oleh Mr. Arnir Sjarifuddin dan dihadiri oleh Pamudji (PKI -35), Subekti, Atrnadji (sekretaris Gerindo), Suyoko, Arrnunanto (PKI-35), Widarta (Pernuda Rakyat Indonesia), H. Mustafa (Singaparna), Liem Koen Hian (Surabaya) dan Oei Gee Hwat. Dari perternuan ini dibentuk Gerakan Anti Fasis (Geraf).

Perternuan kedua diadakan di Sukabumi di rumah dr. Tjipto Mangunkusumo, yang dihadiri oleh dr. Tjipto selaku tuan rurnah, Djokosuyono, yang kemudian rnenyusup menjadi cudanco tentara Peta di Madiun, dr. Ismail (Ismangil)[6] yang kernudian rnenjadi eisei cudanco (kornandan kompi kesehatan) pada tentara Peta Blitar, dan oleh Mr. Amir Sjarifuddin sendiri. Dalarn perternuan ini dibentuk susunan pirnpinan Gerakan Anti Fasis (Geraf) yang terdiri dari: Pimpinan, Mr. Arnir Sjarifuddin Parnudji dan Sukayat. Sekretariat, Armunanto (Ngadmo) dan Widarta. Penasehat, dr. Tjipto Mangunkusurno.

Sesudah Jepang menduduki Indonesia, Mr. Amir Sjarifuddin mulai membuat jaring-jaring perlawanan. Namun Jepang yang mengambil alih aparat kepolisian, berhasil memperoleh informasi tentang gerakan bawah tanah komunis. Berdasarkan dokumen tersebut Jepang berhasil membongkar kegiatan kelompok Mr. Amir Sjarifuddin. Pada bulan Februari 1943 ia bersama- 300 orang ditangkap. Mr. Amir Sjarifuddin, Pamudji, Sukayat, Abdulrachim, dan Abdul Azis divonis mati. Atas permintaan Sukarno-Hatta kepada Panglima Tentara-16, Letnan Jenderal Nagano, hukuman terhadap Mr. Amir Sjarifuddin diubah menjadi hukuman seumur hidup. Rekannya yang lain tetap dijatuhi hukuman mati. Setelah Mr. Amir Sjarifuddin tertangkap hampir semua jaringannya terbongkar, kecuali jaringan Widarta. Widarta kemudian bersembunyi di daerah Pemalang,[7] mengambil alih kepemimpinan PKI bersama K. Mijaya.

Jaringan kelompok Mr. Arnir Sjarifuddin yang masih selamat adalah jaringan yang dipimpin oleh Mr. Hindromartono, seorang tokoh buruh dari Bojonegoro. Banyak penulis yang mengatakan bahwa kelompok Mr. Arnir Sjarifuddin telah hancur. Ternyata sisa-sisa kelompok ini mengadakan link­up dengan kader-kader PKI-35 di Surabaya. Hasilnya adalah terbentuknya kelompok pemuda yang kemudian menjadi tokoh Pemuda Republik Indonesia (PRI), seperti Sumarsono, Krissubanu, dan Roeslan Widjayasastra.

Di Jawa Barat terbentuk kelompok gerakan bawah tanah yang menamakan dirinya Gerakan Djojoboyo yang dipimpin oleh Mr. Moh Joesoeph pemimpin Gerindo Bandung. Jaringan gerakannya terdapat di sekitar Cirebon dan Bandung. Ia tertangkap menjelang akhir masa pendudukan Jepang, ditahan di rumah tahanan Kempetai di Tanah Abang.

Di samping kelompok-kelompok yang berada di dalam negeri, terdapat juga kelompok yang disebut Kelompok Digul. Kelompok ini terdiri atas tokoh-tokoh PKI yang dibuang akibat pergolakan 1926/1927 dan Kelompok PKI-35 yang tertangkap pada 1937, sesudah Musso meninggalkan Indonesia. Generasi pertama antara lain Sardjono dan Aliarcham, sedang generasi kedua antara lain Achmad Sumadi dan Djokosudjono. Ketika Jepang menyerbu Irian, mereka diangkut oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Australia.

Sebagian dari mereka kemudian bekerja pada Sekutu. Di Brisbane, Ngadiman, Sabariman, dan Djojosudjono membentuk Central Comite baru, Sardjono di Melbourne mendirikan PKI Sarekat Indonesia Baru (Sibar). Karena kegiatannya dianggap membahayakan oleh Sekutu, Sardjono dikirim ke Morotai dan ditempatkan di bagian Penerangan Sekutu.

Masih ada kelompok lain yaitu kelompok Negeri Belanda. Tokoh-tokohnya adalah para mahasiswa seperti Abdulmadjid Djojodiningrat, Setiadjid, Maruto Darusman, dan Suripno. Tokoh lain yang merupakan otak dan generasi mahasiswa ini ialah Djayengpratomo, Gondopratomo, dan Jusuf Muda Dalam. Ketika negeri Belanda diduduki Jerman, mereka melakukan gerakan bawah tanah, seperti spionase dan sabotase. Dalam melakukan gerakan ilegal di negeri Belanda ini telah jatuh beberapa korban, seperti Sidartawan, Sundari, Irawan Sundono, dan Parsono.[8]

[1]        Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid I: Perkembangan Gerakan dan Pengkhianatan Komunisme di Indonesia (1913-1948), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Justus M. van der Kroef, The Communist Party of Indonesia, University of British Columbia, Vancouver, 1965, hal. 22.

[3]     Fasisme adalah ideologi yang menekankan dasar dan paham otoriter, tindakan politik     totaliter serta menolak baik komunisme maupun kapitalisme

[4]     Soe Hoe Gie, Simpang Kiri dari SebuahvJalan, Skripsi Sarjana FSUI, Jakarta, 1969, hal. 22.

[5]     A. Brackman, Op.Cil, hal 14 . 35

[6]     dr. Ismangil, dihukum mati oleh Pengadilan Militer Jepang dituduh menjadi dalang pemberontakan Tentara Peta di Blitar yang dipimpin oleh shodanco Supriadi pada bulan Februari 1945.

[7]     Anton E. Lucas, Peristiwa Tiga Daerah. PT. Pustaka Umum Grafiti,]akarta, 1989, hal 336

[8]     Soe Hok Gie, op. cit., hal. 26

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.