GERAKAN NDORO DEN AYU

GERAKAN NDORO DEN AYU[1]

 

 

6 Februari 1961

 

Presiden Sukarno berpidato di depan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang mengadakan kongresnya yang kelima. Sukarno mengemukakan pendapatnya, “Adapun gerakan wanita Indonesia masih bersifat ladies movement suatu gerakan ‘ndoro den ayu’. Tidak hanya di kalangan pria tetapi juga di kalangan wanita masih banyak terdapat orang yang belum terisi pikiran serta isi hatinya dengan cita-cita sosialistis. Hendaknya ditinggalkanlah sifat ladies movement itu dan dijadikan suatu gerakan sosialistis, suatu gerakan yang revolusioner yang melaksanakan amanat penderitaan rakyat bersama-sama dengan gerakan -gerakan lainnya .”

Tidak dapat disangkal kebenaran yang dikemukakan oleh Sukarno tadi. Dalam pada itu sia-sia ia mengucapkan pendapatnya. Sebab siapakah yang menaruh kepercayaan kepada Sukarno jikalau perbuatannya sendiri berlawanan dengan perkataannya ? Perbuatannya sendiri menunjukkan bahwa dia seorang borjuis dan feodal terbesar yang sedang merajalela di Indonesia. Jikalau dia telah menari lenso dengan Hartini apakah dia masih ingat “amanat penderitaan rakyat?” (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 10.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*