GENERASI MUDA DI NEGARA-NEGARA ASIA

GENERASI MUDA DI NEGARA-NEGARA ASIA [1]

 

2 April 1962

Semalam Gerak Mahasiswa Sosialis (GMS) cabang Jakarta mengadakan pertemuan Halal Bihalal di Jalan Cisadane no. 6. Hujan turun sehingga pengunjung tidak begitu banyak. Suasana pertemuan tidak sunyi dari tekanan-tekanan materi dan rohani yang kini dirasakan.

Akan tetapi para mahasiswa sosialis itu bertekad untuk tidak menyerah begitu saja kepada keadaan, demikian dikatakan oleh sektetaris GMS dalam sambutannya. Sjahrir yang biasa diminta memberikan kata sambutan pada pertemuan-pertemuan GMS sudah barang tentu tidak ada.

Ia mendekam di penjara di Madiun. Sebagai sesepuh di antara hadirin Dr. Saroso Wirohardjo diminta memberikan sambutan. Ia menganjurkan kepada para mahasiswa supaya sesaat pun jangan lupa akan peranan mereka sebagai people’s intelligentsia di dalam masyarakat.

Saya percaya anggota-anggota GMS tidak diliputi oleh apati, sikap masa bodoh terhadap politik. Saya membaca dalam surat kabar Times di London tanggal 31 Maret Ialu tentang “generasi muda di negara-negara Asia tertentu dewasa ini menampakkan gejala apatis, acuh tak acuh saja terhadap politik“.

Times menunjukkan hasil-hasil pemilihan umum di India baru-baru ini menunjukkan bukti generasi muda tidak tertarik kepada salah satu partai ataupun filsafat politik. Apa yang terdapat di India itu juga  ada di seluruh Asia Selatan.

Dalam tahun belakangan inti kekuasaan militer menggantikan kaum politisi di Pakistan dan Birma. Kaum militer di Ceylon juga berusaha begitu akan tetapi mereka gagal. Sedangkan di India kalangan pesimis menduga akan demikian pula halnya segera setelah Nehru meninggalkan percaturan negara.

Rasa tidak senang kalangan muda yang apatis dan bingung terhadap perubahan-perubahan serupa itu mungkin tidak tampak jelas. Apalagi karena tidak mudah bagi mereka menyatakan perasaan setelah kaum militer berkuasa.

Satu-satunya nada yang mengandung harapan yang terdengar ialah bahwa generasi muda tadi tetap menghendaki pemerintah yang representatif, bukan dari suatu kelas cendekia yang remeh, melainkan mewakili kelas yang besar dan berkembang, demikian Times.

Saya teringat sebuah buku yang baru saya baca, Asia in the Balance karangan Michael Edwardes, penerbitan Penguin (1962). Penulisnya mengajukan pendiriannya sebagai berikut:

Adapun demokrasi parlementer di India tampaknya di masa depan akan masuk liang kubur juga seperti yang terjadi di Pakistan, Birma dan Indonesia. Ia mengajukan kecenderungan di Asia ialah menuju authoritarianism.

Selanjutnya ia menyatakan “ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian di Asia dewasa ini” (uncertainty is the only certainty in Asia today). Hal ini niscaya menekan perasaan pemuda-pemuda Asia yang membaca buku tersebut sebab dia tidak menyingkapkan kemungkinan tentang demokrasi akan bisa berkembang di Asia.

Beberapa hari yang lalu saya berbicara dengan seorang bekas perwira Permesta yang pernah bekerja dalam staf Alex Kawilarang. Kawanua itu menceritakan dia merasa tertipu oleh pemerintah pusat.

Ketika Kawilarang dan kawan-kawannya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, maka telah diadakan perjanjian-perjanjian dengan utusan Nasution. Atas dasar itulah mereka menyerah.

Kini terbukti banyak dari janji itu tidak dihiraukan oleh pemerintah pusat. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada lebih kurang 35.000 orang pemuda Minahasa yang dulu termasuk pasukan Permesta memperoleh Iatihan kembali serta indoktrinasi.

Kini pemuda-pemuda itu tidak puas, Senjata-senjata mereka telah dilucuti padahal dulu dijanjikan hal itu tidak akan dilakukan. Selain itu, tokoh-tokoh PRRI/ Permesta yang telah menyerah dengan mempergunakan kesempatan amnesti dan abolisi yang ditawarkan oleh Presiden Sukarno merasa diri tertipu karena kini mereka mengalami semacam penahanan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ventje Sumual, Simbolon, Achmad Husein dan lain-lain akan disuruh betempat tinggal nanti di dekat Magelang. Saya tanyakan kepada Kawanua tadi bagaimana sikap Alex Kawilarang terhadap semua itu? Ia menjawab, Kawilarang tidak senang akan tetapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 199-201.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*