GAMBARAN MENYEDIHKAN TENTANG TENTARA

GAMBARAN MENYEDIHKAN TENTANG TENTARA [1]

29 Desember 1962

 

Pada tanggal 22 Desember Presiden minta datang ke Istana Pangad (Panglima Angkatan Darat) Mayjen A Yani dan Pangal (Panglima Angkatan Laut) E. Martadinata. Setibanya kedua perwira tinggi itu di Istana mereka terus dirangkul dengan mesra oleh Presiden.

Kemudian Presiden mengatakan kepada mereka bahwa pemerintah mengharapkan kerja sama mereka supaya anggaran belanja Angkatan Darat dan Angkatan Laut dipotong dengan 30% untuk tahun 1963. Penjelasan lain tidak diberikan dan pertemuan selesai inilah cerita yang saya dengar semalam dari Haryono perwira tinggi di MBAD yang mengetahui tentang soal itu.

“Gampang saja segala-galanya,” kata Haryono. Seorang teman memberi komentar. “Tetapi sikap Sukarno begitu adalah meesterlijk. Dirangkulnya dulu, kemudian diberitahukannya keputusannya;”

Haryono menyambung:

“Tetapi soal ekonomi sekarang tidak dapat dipecahkan dengan alat-alat moneter belaka yang bersifat teknis. Pemerintah mau supaya buat tahun 1963 defisit menjadi sekecil mungkin tetapi apakah mesti begitu caranya? Soal ekonomi kita sekarang jauh lebih kompleks sifatnya.

Saya bertanya:

“Kalau anggaran Tentara dipotong, apa artinya itu? “Saya belum tahu,” sahut Haryono. “Tapi anggaran tahun 1962 adalah Rp 20 milyar, maka saya kesulitan sebab Rp 27 milyar adalah jumlah minimum yang saya perlukan”.

M.T. Haryono kemudian membentangkan, sekarang ini ada 350.000 orang di dalam Tentara. Untuk belanja, gaji dan uang lauk pauk saja, jadi belum dihitung belanja lainnya seperti untuk perawatan alat-alat dan sebagainya diperlukan Rp 4 milyar.

Sudah pasti betapa pun besar keinginan ke jurusan itu untuk tahun 1963 belum bisa dilaksanakan demobilisasi. Orang-orang yang didemobilisasikan itu hanya akan merupakan sarang-sarang ketidakpuasan apabila mereka tidak dapat ditampung dan mendapat pekerjaan di masyarakat.

Tentara yang selama ini mempunyai tugas operasional kini akan mempunyai tugas masa damai. Itu berarti jika dulu mereka dimarkaskan di gubuk­-gubuk, kini mereka tentu harus dipondokkan dalam asrama­-asrama. Dan asrama itu tidak ada sehingga timbul persoalan di mana mesti mencari duit untuk membangun asrama-asrama baru.

Soal lain yang mendesak ialah tugas apakah yang mesti diberikan kepada Tentara sekarang? Di pihak pimpinan Tentara yang telah dipikirkan mengapa tidak diikut sertakan saja Tentara dalam proyek-proyek nasional yang bertujuan memperbaiki alat-alat produksi seperti dalam usaha penanaman kembali (replanting), penghijauan kembali (reboisasz), menggali saluran, membikin waduk? Untuk itu Tentara sudah punya alat-alatnya dan pengeluaran uang ekstra tidak ada.

Hitler dulu juga tidak mencoba memecahkan kesukaran­-kesukaran ekonomi Jerman dengan alat-alat teknis moneter belaka, akan tetapi dia mengadakan proyek-proyek besar dengan mengikut sertakan antara lain anggota-anggota tentaranya. Disiplin sudah tidak begitu baik di kalangan Tentara sekarang. Kira-kira empat bulan yang lalu terjadi peristiwa di Tanjung Priok. Sebuah batalyon yang hendak di kirimkan ke Irian Barat merusakkan asrama tempat mereka dipondokkan.

Kabel-kabel listrik dicopoti, kaca-kaca jendela dihancurkan, pintu-pintu ditusuki dengan bayonet.

Vandalisme,” kata Brigjen Haryono. “Apa sebabnya?” tanya saya.

“Macam­ macam sebabnya. Ada iritasi di pihak prajurit-prajurit itu karena harus menunggu begitu lama sebelum bisa berangkat. Kapal tak ada hingga keberangkatan mereka terus ditunda­-tunda. Mereka mengharapkan akan diberikan tunjangan istimewa uang lauk pauk dan sebagainya tetapi tunjangan itu tidak dapat diberikan.”

Haryono menceritakan pula bagaimana kanibalisme merajalela di kalangan Tentara karena tak ada uang dewasa ini guna memelihara dan mencukupkan peralatan. Misalnya sebuah batalyon organik mempunyai antara 10 dan 20 truk akan tetapi kini kalau ada 4 truk yang jalan, maka itu sudah baik suku cadang tidak ada. Ban-ban tak cukup accu sulit diperoleh, jadi dicopoti saja dari mobil-mobil lain supaya yang ada bisa jalan terus.

“Inikan kanibalisme”, ujar Haryono.

Dalam rumah-rumah sakit kepunyaan Angkatan Darat keadaan pun serba menyedihkan. Obat-obat tidak mencukupi sedangkan jumlah orang yang dirawat termasuk keluarga anggota Tentara telah naik dengan 40 persen. Ini menunjukkan bagaimana berkurangnya daya tahan jasmani orang-orang itu.

“Apabila dikurangi lagi anggaran Tentara, saya tidak tahu bagaimana mencegah jangan sampai timbul perasaan tidak puas secara luas di kalangan Tentara,” ujar Brigjen Haryono.

Ia menceritakan buat tahun 1963 diperkirakan oleh pemerintah akan memperoleh pendapatan sebesar Rp 77 milyar yakni Rp 22 milyar (dari ekspor setahun yang berjumlah sekitar 500 juta dolar) plus Rp 55 milyar (dari pendapatan rupiah di dalam negeri). Di sebelah itu wensbegroting yang diajukan oleh berbagai departemen ialah sebesar 190 milyar. Jadi  pemerintah berkehendak akan mengadakan defisit sekecil mungkin. Tetapi dapatkah hal itu diselesaikan begitu saja tanpa menimbulkan kesukaran-kesukaran di kalangan Angkatan Bersenjata kalau anggaran dipotong secara drastis?

“Kalau begitu persoalan yang di hadapi oleh Tentara mengapa hal itu tak diteruskan oleh Yani kepada Presiden?” tanya saya.

“Yani tidak diberi kesempatan. Ia diberitahu saja. Selesai”, jawab Haryono

Koko memberi komentar:

“Masalah yang dihadapi oleh Yani dengan Presiden ialah problem of communicatio  (masalah komunikasi). Jika begitu, maka Presiden tidak mendapat gambaran sebenarnya .”

Haryono mengatakan ia berusaha mengajukan gambaran tadi berdasarkan angka-angka yang dipunyainya. Tetapi soal selebihnya terserahlah kepada Yani apakah ia mampu atau tidak membawanya ke pihak atasan dan meyakinkan pihak itu betapa perlunya Tentara mendapat perhatian khusus mengingat keadaan Tentara dewasa ini

“Keadaan sudah begini suram,” ditambahkan oleh Haryono. “Tapi para Menteri harus mendapat mobil-mobil baru lagi. Impalla mereka yang sekarang sudah rusak. Berapa pula uang harus keluar untuk itu?”

Saya bertanya :

“Mobil apa dikasihkan kepada Menteri?” ”Dodge Dart .”

Seorang teman menambahkan Suprayogi  malahan mempunyai dua mobil, satu sebagai Wampa, (Wakil Menteri. Pertama) dan satu Iagi sebagai Menteri sebab ia juga Menteri PUT (Pekerjaan Umum dan Tenaga). Haryono menyambung:

“Karena jengkelnya saya melihat keadaan itu, maka saya juga sudah, pesan lima mobil baru untuk jawatan saya. Saya tidak tahu apa akan dapat”.

Dari percakapan kami dengan Brigjen M.T. Haryono tadi muncul lah gambaran yang sedih tentang Tentara dan tentang situasi sekarang ini. Een droevig beeld, “(Gambaran yang menyedihkan) kata Koko. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 307-311.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*