Dewi Marah Saat Sukarno Merokok dan Tertawa

PERINGATAN ulang tahun ke-45 berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) di Stadion Gelora Bung Karno, 23 Mei 1965, dibanjiri manusia. Puluhan ribu orang memadati tribun yang mengelilingi lapangan stadion. Ribuan manusia lainna, berdiri di lapangan. Di luar (di lapangan parkir dan jalan-jalan di sekitarnya) lebih dari 100.000 orang saling berdesak-desakan. Sungguh seperti lautan manusia.

Seperti ditulis Peter Kasenda dalam buku ‘Hari-Hari Terakhir Sukarno’ (Komunitas Bambu : 2012), saat itu bendera-bendera merah dan baliho-baliho raksasa dengan potret-potret pahlawan partai, Karl Marx dan VI Lenin, berderet di jalan-jalan ibukota. Mereka yang berbaris memasuki stadion, mendapat julukan “semut merah”.

Prajurit semut merah itu di mata Presiden Sukarno, menurut John Rossa (2008) seperti dikutip Peter Kasenda, merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Ia menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari podium, penuh pujian terhadap patriotisme partai dan semangat perjuangannya melawan kekuatan kolonialisme dan neokolonialisme.

Dengan wajah berseri, memakai pakaian seragam Panglima Tertinggi, lengkap dengan semua bintang dan pita tanda jasa tertempel di dadanya, berikut tangan kanannya memegang tongkat komando, Presiden Sukarno dengan spontan memeluk Aidit. Mereka berangkulan mesra, disambut tepuk tangan ratusan ribu manusia, bagai meruntuhkan Gelora Bung Karno.

Presiden Sukarno berpidato dengan semangat memuji peran PKI dalam revolusi dan menegaskan kembali sikapnya mengenai Nasakom “Aku sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan Mandataris MPRS, memang merangkul PKI. Sebab, siapa yang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur hebat dalam penyelesaian Revolusi Indonesia? PKI telah menjadi semakin kuat. … “

Nampaknya di bulan dan tahun yang sama, kegiatan serupa juga digelar oleh PKI. Salah satunya di Pulau Lombok. Pelaksanaan peringatan ulang tahun PKI ke-45 dipusatkan di lapangan Malomba, Ampenan. Kader PKI -termasuk Gerwani (organ dibawah PKI)- datang dengan berjalan kaki dari berbagai pelosok. Sulit dibayangkan, PKI bisa menghimpun massa sebanyak itu. Sekaligus mengejutkan, karena Pulau Lombok dikenal sebagai basis Masyumi. Menurut Drs. H. Mudjitahid, dalam buku Mudjitahid Kepemimpinan Sasak  – Nusantara (Bani Akbar : 2015). Insting Mudjitahid mengatakan, adanya kegiatan peringatan ulang tahuun PKI ke-45 itu, makin tercium dan terasa munculnya pergesekan antar anak bangsa di daerah ini.

Untuk menandingi aksi PKI itu, tokoh muda Islam di NTB kemudian bersatu membentuk Gerakan Muda Islam (Gemuis) dan merencanakan untuk melaksanakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW sebulan setelah apel akbar PKI. Tepatnya pada Juni 1965. Acara itu diakui setengah dipaksakan karena belum pernah terjadi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan dengan menggelar apel. Tapi harapannya, dari kegiatan ini nyali warga yang ciut karena ‘gertakan’ dedengkot PKI akan bangkit.

“Tidak mau kalah dengan aksi PKI, pawai akbar kalangan muda Islam diusung  untuk satu tujuan, yakni guna menunjukkan bahwa kaum muda Islam Pulau Lombok tidak takut terhadap gertakan PKI. Esensi utama kegiatan itu adalah agar rasa cemas masyarakat atas kemunculan PKI yang tidak terduga, tidak terus berkecamuk,” kata Mudjitahid sebagaimana ditulis Hermansyah Pany.

Pengerahan massa kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan berkeliling Pulau Lombok untuk maksud menyampaikan undangan pawai. Saat tiba hari yang ditentukan, masyarakat tumpah ruah dalam acara tersebut. Warga sengaja diundang dalam jumlah besar. Massa yang hadir menyemut memenuhi Lapangan Mataram hingga meluber ke jalan-jalan di Cakranegara dan Ampenan. Jumlah tersebut merupakan rekor terbesar dalam penghimpunan dan penggalangan massa di Mataram.

Dari situlah, sedikit demi sedikit, kewaspadaan warga pada PKI, dibangkitkan. Penggalangan massa dalam jumlah amat besar, kurang lebih 20.000 orang dimaksudkan sebagai kesiapan menghadapi kiprah PKI yang kian terasa ganjil. “Kami menggerakan massa dalam jumlah besar karena sudah tercium kesan bahwa secara sadar PKI memiliki keinginan untuk melakukan kudeta,” kata Mudjitahid.

Awal September 1965, pergesekan mulai makin terasa. Ketegangan akibat pengerahan massa yang saling berhadapan tersebut, mulai menimbulkan riak. PKI secara teratur berkeliling Kota Mataram. Hampir setiap hari mereka meneriakkan yel-yel ‘ganyang jenderal kapitalis’, ‘setan desa’, ‘setan kota’ (kapitalis birokrat atau kabir), dan celotehan lainnya.

Beberapa pekan kemudian, tepatnya pada tanggal 30 September 1965, terjadilah peristiwa penculikan dan pembantaian tokoh revolusi nasional di Lubang Buaya. Indonesia Berduka. Kebencian terhadap PKI semakin menggelegak dan kian tak tertahankan. Aktivis pemuda di berbagai daerah di nusantara juga berkecamuk mendengar pemberitaan sejumlah jenderal diculik PKI. Aktivis Gemuis dan warga Mataram mendengar semua kabar tersebut melalui radio, dengan menahan amarah.

Tiga hari setelah itu, tepatnya 4 Oktober 1965, Mayor Jenderal Soeharto memimpin pengangkatan jenazah Jenderal A. Yani dan lima jenderal lainnya dari lubang buaya. Selaku Pangkostrad Soeharto menyatakan pelaku pembantaian adalah pasukan yang dipimpin Kolonel Untung yang notabene keseluruhan peristiwa itu diotaki PKI.

Afiliasi tokoh muda Mataram lalu berkumpul di wisma daerah (Kantor PT. Bank NTB sekarang) yang juga kediaman Mudjitahid sekaligus markas HMI Cabang Mataram. Para pemuda pada malam itu memutuskan untuk memulai penyerbuan ke rumah aktivis PKI. Obyek yang diserbu adalah rumah pimpinan PKI.

10 Oktober 1965, Mudjitahid bersama beberapa tokoh muda saat itu, menginisiasi pembentukan Panitia Sembilan untuk menggagas pelaksanaan apel besar. Keanggotaan Panitia Sembilan antara lain terdiri dari Putradi, Muharto (Pemuda Katolik), Yakobus Frans, HM Said Ketua Banser (Kabag Perkotaan Pemda NTB/Paman dari TGH. M. Zainul Majdi – Gubernur NTB).

Emosi anggota Panitia Sembilan dan aktivis pemuda se-Pulau Lombok kian tak tertahankan karena beberapa hari sebelum itu radio Beijing menyiarkan berita provokatif yang keberatan atas rencana pembubaran PKI.

16 Oktober 1965, apel siaga pun terselenggara di Lapangan Mataram. Apel tersebut dimaksudkan untuk menuntut pembubaran PKI dan resmi dinyatakan sebaga organisasi terlarang. Keberadaan PKI harus dihentikan.

Berbagai organisasi penentang PKI kemudian menuntut tokoh PKI ‘dihabisi’. Oleh para pemuda, tokoh PKI tersebut “diselesaikan” di kawasan Rembiga. Beberapa aktivis pemuda terheran-heran, mengetahui beberapa anggota PKI yang menjelang dijatah, tiba-tiba minta diazankan. Beberapa anggota PKI yang dibunuh dilaporkan tidak tembus ketika badannya di tombak. Pembunuhan massal tokoh PKI berlangsung di beberapa tempat. Mereka dihabisi oleh massa rakyat yang sudah sangat marah karena sebelumnya sering di teror PKI.

Kiprah para pemuda di Mataram yang tergabung ke dalam Kesatuan Aksi Pengganyangan PKI (KAP Gestapu), tidaklah berhenti pasca pembunuhan tokoh PKI di berbagai tempat. KAP Gestapu NTB kemudian bergeser menggarap isu lain. Yakni, gerakan menurunkan orde lama. Akhirnya Soekarno tumbang. PKI lumpuh.

Gerakan menurunkan orde lama yang menumbangkan Sukarno dari kursi Presiden dan sekaligus melumpuhkan PKI, bisa jadi salah satunya dipicu oleh usaha Sukarno yang memecahkan kebekuan suasana dengan berbagai joke. Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden, Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo merasa sedih karena Presiden Sukarno kali itu tidak tepat membaca situasi. Sebab, suasana masih mencekam. Seluruh hadirin, dan jutaan rakyat Indonesia baru saja mengikuti dengan perasaan galau upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata atas enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI, korban keganasan Gerakan 30 September. “Saya merasa sedih, mengapa kali ini Bapak tidak tepat dalam membaca suasana. Joke-joke semacam itu memang biasa beliau ucapkan. Tetapi ketika hari itu dikemukakan, saya merasa pasti hanya tambah mengecewakan hadirin ..” kata Mangil.

Dewi Sukarno usai melihat tayangan TVRI mengenai sidang Kabinet di Istana Bogor itu, juga dengan nada keras menyatakan perasaan kecewanya menyaksikan Presiden Sukarno bergurau dengan wartawan, merokok, bersikap tenang, dan selalu tertawa. Seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa di Indonesia. Ini mengesankan Presiden bersikap acuh tak acuh. Sedangkan menurut pendapat Dewi, seluruh rakyat Indonesia sangat terkejut sebab baru saja terungkap berita pembunuhan keji terhadap para jenderal di Lubang Buaya.

Presiden Sukarno ternyata masih belum sadar bahwa tayangan TVRI saat itu bukan hanya merugikan citranya, telah salah mengirim sinyal keliru kepada masyarakat. Melengkapi kenyataan, tidak hadirnya Presiden Sukarno dalam upacara pemakaman korban Gerakan 30 September, memicu keraguan. Oleh karena, seperti ditulis Julius Pour (2010), di depan umum Presiden Sukarno tidak tampak sedih, makin subur desas desus yang secara sengaja disebarkan musuh-musuh politiknya. Presiden terlibat. Minimal, telah mengetahui lebih dulu sebelum sebelum peristiwa nahas serta mengenaskan tersebut terjadi.[]

 

Sumber: http://lombokpress.com/dewi-marah-saat-sukarno-merokok-dan-tertawa/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*