CHEN VI DATANG DAN GEDUNG USIS DISERBU

CHEN VI DATANG DAN GEDUNG USIS DISERBU [1]

 

4 Desember 1964

 

Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri RRT Marsekal Chen Yi tanggal 27 November yang lalu tiba di Jakarta. Ia berunding dengan Presiden Sukarno pada tanggal 30 November. Mereka mengadakan peninjauan bersama terhadap perkembangan situasi di Asia Tenggara serta aktivitas kaum imperialis di Konggo khususnya dan di Afrika umumnya.

Chen Yi melanjutkan pertemuan dengan Dr. Subandrio pada tanggal 2 Desember di Istana Cipanas. Mereka membicarakan persiapan untuk mensukseskan Konperensi Asia-Afrika II, peningkatan konfrontasi bersama antara kekuatan Nefos lawan Oldefos. Sudah barang tentu mereka membicarakan konfrontasi terhadap Malaysia.

Pagi ini gedung pusat kebudayaan dan penerangan Amerika Serikat (USIS) di Jalan Segara 4 diserbu oleh para pemuda. Mereka, membakar bendera Amerika, buku-buku perpustakaan dan menghancurkan kaca-kaca jendela gedung itu.

Disponsori oleh Presidium Front Pemuda Pusat, mereka mulanya mengadakan rapat umum di depan Gedung Pemuda untuk memprotes dan mengutuk tindakan agresif dan keganasan Amerika-Belgia di Kongo. Sehabis rapat mereka mendatangi gedung USIS dan merusaknya. Duta Besar AS Howard P. Jones secara resmi mengeluarkan protes atas serangan terhadap gedung dan perpustakaan USIS di Jakarta.

Sementara itu hari ini Dr. Subandrio mengeluarkan peringatan. Pada hari-hari belakangan ini seolah-olah di antara kita sama kita ingin mengadakan konfrontasi ideologi, kata Subandrio. Bagi kita tiap “isme” di Indonesia mempunyai unsur persatuan dan kesatuan jiwa apakah itu Sukarnoisme, Nasakom ataukah Pancasilaisme dan lain sebagainya. Suban­drio memperingatkan selanjutnya agar jangan sampai masalah “Sukarnoisme” dapat menimbulkan perpecahan di antara kita sama sekali juga jangan sampai “Sukarnoisme” itu dijadikan alat untuk perpecahan.

Peringatan Subandrio ini kedengarannya bagaikan dia hendak memberitahukan awas akan terjadi apa-apa yang tidak sedap jika soal “Sukarnoisme” masih terus dipolemikkan. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 484-485.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*