CARA PKI MENYINGKIRKAN LAWAN-LAWANNYA

CARA PKI MENYINGKIRKAN LAWAN-LAWANNYA [1]

 

28 April 1964

 

Sebuah berita yang mengagetkan saya ialah tentang Gatot Gunawan pada tanggal 23 April diculik dari rumahnya oleh orang-orang yang tidak dikenal dan sampa sekarang belum diketahui perihal nasibnya. Gatot Gunawan dikenal namanya dalam pers karena ia diberitakan dalam hubungan perkara Djuki Abdul Aziz penanggung jawab surat kabar Djawa Timur yang diperiksa oleh pengadilan Surabaya. Djuki menyiarkan di Jawa Timur terdapat GAS atau Gerakan Anti-Sukarno sedangkan hal itu tidak dapat dibuktikannya. Gatot menjadi saksi utama dalam perkara tersebut.

Gatot Gunawan tahun lalu dipukuli oleh orang-orang PKI di Surabaya dan kalau kebetulan tidak lewat sebuah patroli polisi ketika peristiwa itu terjadi niscaya. Gatot sudah mati, Gatot memang orang yang giat bekerja di kalangan rakyat desa untuk membendung pengaruh PKI. Apakah reaksi Ruslan Abdulgani jika dia mendengar tentang penculikan terhadap Gatot? Sebab Gatot ialah adik Nyonya Ruslan Abdulgani.

Menteri Kehakiman Astrawinata seorang fellow-traveller PKI beberapa waktu berselang mengunjungi Surabaya dan kabarnya ia berbicara dengan hakim dan jaksa yang memegang perkara Djuki. Akibat kunjungan itu Djuki dibebaskan oleh pengadilan dari tuntutan. Dalam pada itu masih ada perkara lain yang harus diperiksa di mana Djuki tersangkut sebagai akibat pengaduan Menteri Ruslan Abdulgani. Astrawinata kabarnya juga telah mendesak supaya perkara itu didrop saja.

Dalam berbagai hal tampak kegiatan PKl sekarang untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya lawannya. Kasus Gatot Gunawan ialah sebagai contoh. Kasus lain ialah heboh terhadap H.B. Jassin yang menjadi lektor pada Fakultas Sasta Universitas Indonesia. Oleh karena Jassin penandatangan Manifes Kebudayaan dan Manifes itu tidak disukai oleh PKI dan disebutnya sebagai “Manikebu” maka dilancarkanlah aksi terhadap Jassin yang dipelopori oleh CGMI, mahasiswa komunis.

Mereka menuntut supaya Jassin diretul, sebuah delegasi mahasiswa golongan kiri pada tanggal 13 April lalu bertemu dengan Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Kolonel Sjarif Thayeb dan minta Jassin dicopot sebagai lektor. Apa kata Sjarif Thayeb waktu itu? “Saya akan bendung Jassin agar ia tidak dapat lagi memberikan kuliahnya di Fakultas Sastra.”Rektor itu juga menyatakan secara pribadi tidak setuju dengan·Manifes Kebudayaan yang berdasarkan cita-cita”humanism universal” karena telah out of date. Kini nasib Jassin belum ketahuan walaupun organisasi-organisasi mahasiswa Islam membelanya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 454-456.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*