BURUNG BEO YANG BISA BILANG ”USDEK”

BURUNG BEO YANG BISA BILANG ”USDEK” [1]

 

25 Maret 1964

 

Presiden kemarin menengok Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani yang sedang beristirahat di rumahnya karena kesehatannya terganggu sejak tanggal 19 Maret lalu. Surat kabar memberitakan ketika Ruslan sedang bekerja di departemennya tiba-tiba jatuh sakit dan dibawa ke rumahnya. Tidak diterangkan apa sakitnya.

Mengenai Ruslan, ada sebuah tulisan wartawan J. Eijkel boom dari majalah Vrij Nederland (18 Januari 1964) yang mengatakan “sloganisme” yaitu bekerja dengan semboyan-semboyan merupakan salah satu faktor penghambat dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Mengenai semboyan-semboyan itu Eijkel boom menulis : President Sukarno (door de Observer eens een amateur ideologist genoemd) is een meester in het bedenken, minister Ruslan Abdulgani in het verspreiden ervan.

Een contingent militairen dat een paar maanden geleden terugkeerde van Irian Barat bracht voor Dr. Abdulgani een papegaai mee, die Usdek kon zeggen(Presiden Sukarno yang pernah disebut oleh Observer sebagai seorang ideoloog amatir adalah, seorang empu dalam memikirkan ideologi, adapun Menteri Ruslan Abdulgani di dalam penyebarannya. Sebuah kesatuan militer yang beberapa bulan berselang kembali dari Irian Barat membawa untuk Dr. Abdulgani seekor beo yang dapat mengatakan “Usdek”).

Sementara kalangan orang PNI mengatakan Ruslan yang jadi salah satu ketua PNI mengambil posisi politik sama sejalan dengan posisi ketua umum PNI Ali Sastroamidjojo. Posisi itu ialah betapapun juga supaya tetap menggandul kepada Presiden. Di kalangan PNI kini banyak timbul frustrasi karena sikap Ali Sastroamidjojo yang menggariskan politik kerja sama dengan PKI. Garis itu tidak disenangai oleh sementara kalangan PNI tadi akan tetapi mereka mau berbuat apa? (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 438-439.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*