BUBARKAN SEMUA ALAT “BPS”

BUBARKAN SEMUA ALAT “BPS” [1]

 

24 Februari 1965

 

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memperingati genap usianya 19 tahun dengan mengadakan rapat raksasa di Istana Gelora Bung Karno. Ketua Umum PWI Pusat A. Karim D.P. pun berpidatolah. PWI menolak BPS, katanya. BPS mempunyai semboyan yang diajarkan oleh CIA (Pusat Dinas Rahasia Amerika Serikat) yaitu “Sukarnoisme but to kill Sukarnoisme and Sukarno(Sukarnoisme tetapi untuk membunuh Sukarnoisme dan Sukarno). Ia mengharapkan ketegasan sikap.

Menteri Penerangan atas tuntutan konperensi kerja PWI di Malang yaitu agar pers Indonesia dibersihkan dari sisa-sisa BPS dan unsur-unsur kontra revolusioner lainnya. Ketika tiba giliran bagi Presiden berpidato, maka dengan kontan dia memerintahkan kepada Menteri Penerangan Achmadi agar segera membubarkan segala alat yang menjadi antek-antek “BPS” yaitu gerakan subversif dan kontra revolusi yang telah dibubarkan itu.

“Jangan dikira saya plintat plintut, Saya sudah tegas-tegas membubarkan gerakan “BPS” apa pun yang jadi antek-antektnya “BPS harus dibubarkan,” kata Presiden yang mensejajarkan “BPS” dengan gerakan Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar dan Partai Masyumi. Presiden menyampaikan pujian pula kepada PWI ia mengatakan:

PWI sekarang ini benar-benar menjadi alat reyolusi yang tangguh dan terpercaya.” Ia menegaskan: “Dalam suatu revolusi sudah tentu tidak ada pers bebas. Yang diperbolehkan ialah pers yang membantu dan mendukung sepenuhnya pelaksanaan revolusi”. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 504-505.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*