BERPIKIR SEBAGAI SERSAN PELATIH

BERPIKIR SEBAGAI SERSAN PELATIH[1]

 

24 Maret 1961

Pada tahun 1958 di Rhodes diadakan sebuah seminar untuk membahas masalah demokrasi di negara-negara baru di Asia dan Afrika. Dari Indonesia yang hadir sebagai peserta ialah Sjahrir. Pada tahun 1959 diadakan seminar yang serupa di Ibadan. Bulan Februari lalu dilangsungkan di New Delhi seminar yang membahas masalah ini lebih jauh di bawah judul “Second Look at Democracy in South and Southeast Asia”. Penyelenggara seminar  ialah Congres_s for Cultural Freedom (markasnya di Paris) bersama dengan Indian Institute of Public Administration.

Peserta dari Indonesia ialah Sudjatmoko. Asoka Mehta anggota parlemen India dan Sekjen Partai Praja Sosialis menuliskan kesan-kesannya tentang jalannya seminar di New Delhi tadi dan dengan penuh minat saya baca tentang diskusi perihal peranan tentara di negara-negara Asia-Afrika.

Dalam laporan Asoka Mehta tersebut dikatakan antara lain, “di Indonesia misalnya, para panglima yang diangkat oleh markas besar angkatan darat di pelbagai daerah itu cenderung mengindentifikasikan diri mereka dengan daerah sesudah beberapa waktu. Dalam soal-soal ekonomi, para perwira yang diangkat dalam perusahaan negara cepderung menjadi bersatu dengan kepentingan-kepentingan PT Negara tersebut. Adapun tentara di Indonesia dan di Birma tidaklah merupakan kasta terpisah dan tidak mempunyai ideologi yang distinktif atau jelas. Pada umumnya ia tidak mempunyai gagasan- gagasan jelas mengenai apa yang harus dilakukan dengan kekuasaan (power). Ia cenderung berpikir dalam rangka seorang sersan pelatih (drill sergeant). Ia dapat menyelenggarakan ketertiban tetapi merasa canggung di mana dia harus mengurus masalah­ masalah pertumbuhan ekonomi umpamanya. Tentara pada umumnya segan menjadi satu-satunya pemegang kekusaan .” (DTS)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 19-20.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*