“ASIAN GAMES DAN INSIDEN SONDHI”

ASIAN GAMES DAN INSIDEN SONDHI[1]

 

5 September 1962

Tanggal 4 September selesailah Asian Games IV di Jakarta. Indonesia berhasil menduduki tempat kedua dalam klasemen umum dengan menggondol 11 medali emas, 12 medali perak dan 25 medali perunggu.

Tampak kemajuan. di berbagai cabang olahraga seperti renang dan balap sepeda. Bulu tangkis tidak perlu dipersoalkan karena di situ terdapat supremasi Indonesia berkat pemain Tan Joe Hok dan Minarni.

Pelari cepat (100 meter) Sarengat berhasil menggondol dua medali emas. Perenang-perenang Indonesia pada umumnya menyisihkan perenang Filipina.

Pada upacara penutupan Asian Games publik Indonesia tidak bersikap sportif ketika bendera India dinaikkan setelah kesebelasan India keluar sebagai juara pertama sepak bola Asia. Publik berteriak-teriak terhadap regu India sedangkan regu Korea Selatan yang keluar sebagai nomor dua disambutnya dengan tepuk tangan. Semua ini disebabkan G.D. Sondhi, Wakil Ketua Federasi Asian Games mengeluarkan pernyataan di Jakarta.

Ia bermaksud tidak akan mengakui Asian Games IV sebagai Asian Games setelah Pemerintah Indonesia menolak ikut sertanya Taiwan dan Israel dan hal ini tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan Asian Games. Pemimpin-pemimpin Indonesia lalu mengerahkan pendapat umum anti Sondhi. Demonstrasi diadakan terhadap Sondhi. Kedutaan Besar India di Kebon Sirih dipungkangi dengan batu. Menteri Perdagangan Dr. Suharto mengeluarkan pernyataan yang mengancam hendak meninjau perhubungan dagang dengan India lantaran sikap Sondhi. Pendek kata dalam semua ini politik telah masuk kedalam olahraga.

Golongan Komunis mendapat keuntungan politik dari insiden Sondhi ini. India sudah lama tegang hubungannya dengan RRT akibat persoalan tapal batas. Apabila hubungan Indonesia dengan India menjadi buruk, hal itu disambut baik oleh RRT.

Bagi generasi muda, sikap penguasa Indonesia tidaklah edukatif. Indonesia niscaya tahu apabila dia menjadi tuan rumah Asian Games, maka Taiwan dan Israel harus ikut serta. Dalam soal fair play tampaknya para penguasa Indonesia tidak memperlihatkan seginya yang terkuat. Tetapi dalam iklim Jacobijns nationalisme memang tidak ada peluang untuk bersikap fair dan jujur. Amatlah disayangkan sebuah pesta olahraga Asia yang mestinya diliputi oleh sportivitas telah direndahkan menjadi sebuah manipulasi politik. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 250-252.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*