APABILA TENTARA TETAP BERSATU

APABILA TENTARA TETAP BERSATU[1]

 

15 September 1961

Sehabis rapat tindak -lanjut keamanan di Cibogo tanggal 29-31 Agustus , para panglima seluruh Indonesia kemudian mengadakan pula rapat tersendiri yang mereka namakan “rapat karya”.

Seorang informan menceritakan kepada saya mereka membicarakan soal-soal politik. Mereka mencapai kesimpulan di  situ gagasan Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) tidak akan berhasil diwujudkan  di dalam kabinet apabila dari selama Tentara tetap bersatu adanya.

Para panglima yang hadir di rapat tersebut juga berpendapat reshuffle kabinet yang sebetulnya tidak perlu dewasa ini. Pada hemat saya sekarang perlu juga dicarikan pengganti Ir. Djuanda yang setelah begitu lama dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat telah dibolehkan kembali  ke rumah. Buat paling sedikit setengah tahun Djuanda harus mengaso penuh lantaran penyakit jantung yang dideritanya.

“Rapat karya” para panglima juga membicarakan soal ekonomi negara dan rakyat Indonesia. Keadaan ini tidak menggembirakan walaupun Pejabat Presiden Dr. J. Leimena menegaskan kemarin sore “pemerintah mempunyai cukup persediaan beras untuk menekan harga beras di pasaran” Harga beras belum juga mau turun secara berarti, Di Jawa Barat rakyat di beberapa daerah seperti Tasikmalaya diliputi oleh kecemasan yang sangat melihat naiknya harga beras dua kali lipat.

Dalam rangka mempergiat ekspor, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Sementara (GPEIS) baru-baru ini mengadakan rapat kerja di Jakarta dan memajukan sejumlah usul kepada pemerintah.

Fakta bahwa sekarang orang membicara­kan masalah beras dan masalah ekspor menunjukkan program sandang-pangan pemerintah Sukarno sedang disoroti oleh masyarakat. Di bidang ekonomi-keuangan ia menghadapi kesukaran (DTS)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 97-98.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*