“ANTARA” DI BAWAH PIMPINAN SUKARNO

“ANTARA” DI BAWAH PIMPINAN SUKARNO [1]

 

6 Oktober 1962

Tiga hari yang lalu Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) mengumumkan, Presiden Sukarno telah mengambil keputusan mengubah keseluruhan anggaran dasar Yayasan Kantor Berita “Antara” hingga nama yayasan tersebut menjadi “Lembaga Kantor Berita Antara ” di bawah pimpinan Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Mulai tanggal 15 Oktober 1962 penguasaan Peperti atas Yayasan Kantor Berita “Antara” dihentikan dan mulailah berlaku status baru “Antara” sebagai sebuah lembaga .

Pimpinan “Antara” kini ada di tangan Presiden Sukarno dengan sebuah Dewan Pengawas yang terdiri dari 17 orang diketuai oleh Menteri Penerangan Prof. Muhammad Yamin dan dengan sebuah Dewan Pimpinan terdiri dari 6 orang di bawah Pandu Kartawiguna. Dalam Dewan Pimpinan ini duduk pula Djawoto, Pemimpin Redaksi “Antara”, dan Mohammad Nahar, Pemimpin Redaksi “PIA”.

Dengan terwujudnya “Antara ” menurut gaya baru ini saya pikir bertambah habislah ruang gerak bagi kemerdekaan pers. Inilah pula salah satu ciri kehidupan dalam alam Manipol Usdek . Saya baca tulisan Guy Pauker berjudul “Practical Politics in Southeast Asiayang dimuat dalam majalah Pacific Affairs (1962) dan ia menilai Manipol dengan mengatakan:

“Indoktrinasi politik, penjenuhan negara dengan slogan-slogan, dan usaha-usaha melaksanakan pengawasan pikiran (thought-control) telah ditingkatkan secara terus-menerus akan tetapi pengulangan-pengulangan tiada habisnya tidaklah dapat dianggap sebagai pengganti bagi doktrin politik yang teliti terperinci” .

Manipol atau Marhaenisme dan sebagainya tidaklah berkembang menjadi “suatu teori politik yang bulat dan tidak menjadi suatu pedoman tegas bagi tindakan sosial”, demikian kata Prof. Guy J. Pauker dari Amerika Serikat itu. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 262-263.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*