AKSI-AKSI SEPIHAK KAUM TANI

AKSI-AKSI SEPIHAK KAUM TANI [1]

 

3 Januari 1964

 

“Tahun 1964 akan merupakan terus peningkatan perjuangan anti-kolonialisme yang kita mulai sejak berdirinya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia 18 tahun yang lalu dengan berpegang teguh kepada amanat Panglima Besar “Percaya pada kekuatan sendiri dengan tidak kenai menyerah. Kaum kolonialis dengan memperalat proyek neo-kolonialisme “Malaysia” menjadi lebih galak lagi memperkuat diri memperluas dan memperkembangkan pangkalan-pangkalan dan pasukan-pasukannya di darat, di Iaut dan di udara berlipat-lipat ganda,” demikian kata Menko/KASAD Jenderal A.H. Nasution dalam menyambut peralihan tahun 1963 ke tahun 1964. Dan Menteri/PANGAU Laksamana Muda Udara Omar Dani mengatakan:

“Bahaya yang meminta kewaspadaan nasional ialah kegiatan-kegiatan kaum kontra revolusi dan subversive yang menyelundup di berbagai bidang kehidupan serta perjuangan kita”.

Mulai 1 Januari 1964 PANGAD Ahmad Yani dinaikkan angkatnya menjadi Letnan Jenderal. Dalam masalah Indonesia-Malaysia, dalam pesan tahun baru yang diucapkan oleh PM Tengku Abdul Rahman di Kuala Lumpur beberapa saat setelah diterimanya laporan tentang serangan yang dilakukan oleh “kaum teroris Indonesia” (gerilyawan kemerdekaan Kalimantan Utara) terhadap sebuah pos dekat Kota Tawao, Sabah, ternyata dia mempertimbangkan meminta campur tangan PBB dalam menghadapi konfrontasi Indonesia.

Menteri Utama Sabah Donald Stephens berseru agar PBB mengirimkan pasukannya ke daerah perbatasan Kalimantan Utara guna menguasai apa yang disebutnya “agresi” Indonesia yang terbuka terhadap Malaysia. Pada tanggal 2 Januari Duta Besar Indonesia di PBB Lambertus Nico Palar·menolak dengan tegas tuduhan wakil “Malaysia” yang menyatakan Indonesia telah melanggar wilayah udara “Malaysia”.

Bagi saya pada permulaan tahun baru ini yang mengandung arti banyak dan tidak dapat diperkirakan apa konsekuensi-konsekuensinya di masa datang adalah pernyataan ketua CC PKI D.N. Aidit dalam upacara penutupan Sekolah Koperasi Tani Pusat di Jakarta tanggal 29 Desember lalu  Aidit mengatakan

“kaum komunis menganggap aksi-aksi sepihak dari kaum tani dalam melaksanakan landreform sebagai hal yang adil dan patriotik karena aksi-aksi ini bertujuan melaksanakan undang-undang negara dan menguntungkan pemerintah serta rakyat di luar kaum tani sebab aksi-aksi tersebut dapat membantu memecahkan masalah pangan”. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 395-396.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*