ADAKAH MASA DEPAN PARTAI POLITIK ISLAM?

ADAKAH MASA DEPAN PARTAI POLITIK ISLAM? [1]

30 November 1962

 

Apakah partai-partai politik yang berdasarkan Islam mempunyai masa depan di tanah air kita? Bung Hatta berpendapat tidak. Dua hari yang lalu Koko, Sarbini dan saya bercakap-cakap dengan Bung Hatta di rumahnya dan antara lain kami menyinggung soal tadi.

Menurut Hatta, sebaiknya dibentuk saja partai baru. Katakanlah umpamanya bernama Partai Daulat Rakyat yang meliputi golongan Islam dan mempunyai landasan ideologi Pancasila dan Demokrasi. Dalam partai yang demikian menjadi kewajiban umat Islam memberi isi kepada sila-sila Pancasila seperti Ketuhanan Yang Maha Esa, Keadilan Sosial dan lain-­lain. Kalau Keadilan Sosial itu bisa diberi isi menurut pandangan Islam hingga menjadi Keadilan Illahi, maka apalah lagi yang bisa mengatasinya sebab bukankah Keadilan Illahi adalah keadilan yang tertinggi? demikian kata Hatta .

Tidak ada gunanya berbicara tentang Negara Islam sebab sudah nyata hal itu tidak mungkin tercapai. Dalam sidang Konstituante dahulu kentara golongan Islam hanya bisa mencapai 48% dari seluruh suara.

Apakah yang harus kita lakukan untuk membawa Islam di negara kita kepada tugasnya menghadapi dunia modern sekarang ini? Hatta mengakui golongan Islam tidak mempunyai leadership (kepemimpinan) sekarang yang sanggup melaksanakan tugas tersebut. Bagaimana di kalangan pemimpin Islam yang muda-muda? Ada juga beberapa orang yang sanggup tetapi mereka sedang meringkuk dalam tahanan penjara.

Lalu apakah yang dapat dikerjakan? Bentuklah kelompok-kelompok inti yang terdiri dari empat atau lima orang dan biarkanlah mereka mendidik dan mempersiapkan diri untuk. masa depan. Hatta teringat kepada pekerjaan yang dilakukan oleh Pendidikan Nasional Indonesia (partai yang dipimpin oleh Hatta dan Sjaqrit) di tahun 1930-an.

Koko mengemukakan perubahan bisa datang melalui perubahan struktural dalam perimbangan kekuasaan. Hatta tidak memberi komentar .

Apakah sebabnya tampak kelumpuhan sekarang ini? Hatta menerangkan sebabnya ialah karena pemimpin-pemimpin tidak mempunyai karakter. Padahal karakter itu amat penting untuk membina demokrasi. Orang-orang muda sekarang hanya memikirkan pangkat dan kedudukan, mereka terlalu takut-takut buat menyatakan pendapat yang berlainan dari pendapat anutan resmi. Orang-orang tua pun begitu pula,  mereka cuma memikirkan kepentingan diri sendiri.

Hatta membuat perbedaan tajam antara politisi sebelum Perang Dunia ke II dengan politisi sesudah perang. Politisi yang belakangan ini curang kalibernya, kurang inzet-nya (taruhannya). Sedangkan politisi sebelum perang mempunyai keberanian sebab bukankah segala sesuatu telah diperhitungkan mereka seperti kemungkinan ditangkap, dibuang ke Boven Digul dan sebagainya?

Di samping soal-soal seperti ke arab mana golongan Islam mesti dibawa, soal Pancasila, kami membicarakan juga dengan Bung Hatta soal-soal lain mulai dari sengketa India-RRT hingga pembangunan daerah, mulai dari sikap mahasiswa hingga sikap pemimpin.

“Hari ini “Antara” menyiarkan penjelasan pihak Peperda/Pedarmilda Jawa Timur yang menegaskan tidak ada organisasi yang dinamakan “GAS” atau “Gerakan Anti Sukarno”. Sejak bulan Agustus 1962 dilancarkan berita ada komplotan “GAS”. Pada permulaan Oktober dalam sidang pleno DPR-GR Kota praja Surabaya tersiar lagi berita tentang “GAS”. Kemudian Gatot Gunawan dan kawan-kawannya dikatakan oleh harian Djawa Timur tersangkut dalam komplotan “GAS”.

Gatot pada malam menjelang Hari Pemuda yang lalu dikeroyok oleh orang-­orang PKI. Kini ternyata berdasarkan penyelidikan oleh Catur Tunggal Tingkat I Jawa Timur (Militer, Polisi dan Kejaksaan) apa yang dinamakan  komplotan  “GAS” itu tidak ada sama sekali. Tetapi Presiden percaya ada organisasi “GAS” itu. Pada hakikatnya: “GAS” hanyalah isapan jempol PKL .Beritanya dibesar-besarkan oleh orang-orang komunis. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 293-295.

 

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. ADAKAH MASA DEPAN PARTAI POLITIK ISLAM? – G30S-PKI.COM | Selayar Today
  2. ADAKAH MASA DEPAN PARTAI POLITIK ISLAM? – G30S-PKI.COM | Selayar Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*