ADA ORGANISASI RAHASIA VOC

ADA ORGANISASI RAHASIA VOC[1]

 

31 Januari 1962

Sudah 15 hari Sjahrir dan kawan-kawannya ditahan.

Menurut seorang teman, pemeriksaan terhadap mereka telah selesai dilakukan. Tidak didapati sesuatu hal yang memberatkan bagi Sjahrir dan Subadio Sastrosatomo. Mengenai tokoh-tokoh Masyumi keadaannya sedikit berbeda sebab ketika dilakukan penggeledahan di rumah Prawoto diketemukan dokumen-dokumen yang “memberatkan”.

Apa persis dokumen-dokumen itu tidak diketahui walaupun Didi Tasrif menceritakan kepada saya, bukan mustahil yang diketemukan ialah surat-surat Natsir, Sjafruddin Prawiranegara kepada Prawoto yang memang suka menyimpan surat-surat tadi di rumahnya dan membagikannya kepada sesama anggota Masyumi untuk dibaca.

Berdasarkan dokumen-dokumen yang diketemukan dirumah Prawoto dan yang merupakan surat-surat bukti, maka tuduhan terhadap pemimpin-pemimpin Masyumi menjadi lain sama sekali dasarnya daripada semula, tatkala diperintahkan penangkapan terhadap mereka, demikian keterangan seorang dari kalangan Tentara yang erat hubungannya dengan pemeriksaan kepada seorang teman saya.

Apakah dasar tuduhan yang semula? Konon disebutkan adanya sebuah organisasi rahasia bernama VOC singkatan dari Vernielings Organisatie Corps (ada pula yang mengatakan singkatan dari Verenigde Ondergrondse Corps) di bawah pimpinan Sultan Hamid II dari Pontianak dengan wakilnya seorang yang bernama Pitoy.

Sebagai anggota-anggota organisasi yang bersifat subversif itu disebutlah nama-nama orang yang kebanyakan berasal dari Indonesia bagian Timur seperti Sahetapy, Johannes, sedangkan nama Ir. Ondang disebutkan sebagai kepala Vernielings Brigade (Brigade Penghancuran). Selanjutnya percaya atau tidak disebutkan pula sebagai anggota-­anggota VOC yang dipimpin oleh “Max” Hamid II tadi orang-orang seperti Sjahrir, Subadio, Roem, Prawoto, Yunan Nasution dan lain-lain. Oleh karena itu mereka semila ditangkap pada tanggal 16 Januari lalu.

Teman-teman saya mengatakan adalah absurd dan tidak logis sama sekali seorang nasionalis sejati seperti Sjahrir sekalipun dia berbeda pendapat dengan Sukarno dalam berbagai hal akan mau berurusan dengan organisasi subyersif bersama-sama dengan Sultan Hamid.

Selanjutnya adalah mengherankan Sukarno percaya akan tuduhan-tuduhan demikian terhadap Sjahrir hingga dia memerintahkan penangkapan. Akan tetapi harus dicatat apa yang dikatakan orang dalam masyarakat politik Ibu Kota yaitu sejak terjadinya Peristiwa Cendrawasih di Makassar, maka Sukarno konon berada dalam keadaan jiwa yang gugup dan nervous.

Letjen Gatot Subroto dan Dr. Subandrio baru-baru ini mengatakan kepada Maria Ulfah, tidak lama lagi Sjahrir akan dibebaskan akan tetapi hingga sekarang hal itu belum berwujud jadi kenyataan. Sjahrir kini ditahan di sebuah rumah di daerah Kebayoran yang dulu didiami oleh Kersten, Direktur “Goodyear”. Sejak beberapa hari lalu Sjahrir tidak diizinkan lagi menerima kiriman makanan atau pakaian dari rumah.

Kehidupan berjalan terus. Pada tanggal 29 Januari lalu Presiden menyaksikan lelang amal untuk perjuangan Irian Barat yang diselenggarakan oleh Menteri Kesejahteraan Sosial Mulyadi di Hotel Duta Indonesia. Lelang amal itu menghasilkan lebih dari Rp 21 juta.

Menurut berita “Antara”, barang-barang perhiasan dari emas dan berlian yang dilelang itu banyak yang mencapai harga satu juta atau setengah juta dan di antara hartawan-hartawan itu terdapat nama-nama Dasaad, Saleh, Hamadiah, Oei Goan Tjiang, Kosasih, Bakri, Tan Kam Ki, Joe Eng Sek , Lukmasa dan banyak lainnya lagi. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal.171-173.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*