ADA LAGI PENANGKAPAN-PENANGKAPAN

ADA LAGI PENANGKAPAN-PENANGKAPAN [1]

 

 

27 Mei 1963

 

Hamdani, anggota bekas PSI, Residen Cirebon di mana Persetujuan Linggajati dirundingkan, kemudian jadi Menteri dalam kabinet RI di Yogya di bawah pimpinan Perdana Menteri Dr. Halim (1950) telah ditangkap oleh alat-alat negara pada tanggal 26 Mei lalu. Atas tuduhan apa, tidaklah terang juga Mahdi dari Apotik Abadi di Bandung ditangkap.

Dewasa ini tampak kecenderungan di sebagian alat-alat negara untuk mengejar-ngejar orang bekas Masyumi dan PSI. Hal ini disebabkan pidato Presiden dalam rapat umum Wanita Partindo di Senayan tanggal 19 Mei lalu. Presiden menyatakan :

“Keributan-keributan yang terjadi di Bandung tanggal 10 Mei yang bersifat anti-Cina itu adalah disebabkan aksi kontra revolusi yang dilancarkan oleh orang bekas PSI, Masyumi, PRRI, Permesta dan subversi asing.”

Brigjen Haryono dari MBAD belum lama berselang mengatakan kepada saya bahwa di MBAD dilangsungkan rapat para Panglima yang ada di Jawa untuk “memforsir uitspraak dari Angkatan Darat” perihal peristiwa di Bandung. Menurut Brigjen itu, maka we zouden de studenten te kort doen(kita akan kurang menghargakan para mahasiswa itu) kalau kita cuma mengatakan mereka didalangi oleh PSI, Masyumi.

Padahal sudah terang gerakan anti-Cina itu adalah gerakan mereka sendiri yang timbul dari hati mereka sendiri.

“Bahkan ada orang-orang PSI-Masyumi ikut menunggang itu adalah lumrah. Seperti juga lumrah, dan memang menurut kenyataan, turutnya orang-orang PNI dan PKI di dalam aksi-aksi anti­-Cina itu,” katanya.

Ada sebuah cerita sebagaimana dikatakan oleh Ruslan Abdulgani kepada teman saya Anto. Cerita itu mengatakan Kedutaan Besar RRT mengirimkan sebuah laporan kepada Presiden dan di situ mereka mengatakan gerakan anti-Cina itu merupakan bagian kecil dari usaha yang lebih besar yaitu usaha hendak menjatuhkan Presiden. Oleh karena ini merupakan soal berat bagi Presiden  maka dengan segera Presiden mencap PSI-Masyumi sebagai dalang-dalang aksi tadi.

Di belakang move Kedutaan Besar RRT itu tersimpan siasat untuk menyingkirkan unsur-unsur anti-PKI dan meratakan jalan bagi PKI untuk lebih dalam masuk ke dalam lingkungan kekuasaan negara. RRT sangat lihai mempermainkan obsesi dan ketakutan yang ada pada Presiden. Karena itu, kata Ruslan Abdulgani kepada Anto:

“Soal ini sangat berat”. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 367-368.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*