ADA LAGI PENAHANAN-PENAHANAN

ADA LAGI PENAHANAN-PENAHANAN[1]

 

20  Februari 1962

Hari ini sudah lima minggu Sjahrir, Roem, Prawoto ditahan. Mereka ditempatkan di sebuah rumah “Goodyear” di Kebayoran Baru. Subadio dan Anak Agung dipindahkan dari Jalan Hayam Wuruk ke sebuah rumah di Jalan Indramayu No. 14. Di kantor Caltex, tempat Anak Agung menjadi penasihat yuridis, diadakan penggeledahan di kamar kerja Anak Agung dan semua mesin tik diperiksa jenis hurufnya. Pihak penguasa masih tetap mencari dengan mesin tik siapa telah diketik “dokumen-dokumen yang subversif“.

S.M. Sjaaf, bekas pemimpin redaksi harian Abadi juga ditahan sejak lebih kurang dua minggu ini. Apa alasannya tidak diketahui pasti walaupun ada yang bilang Sjaaf ditangkap setelah dilakukan penggeledahan di rumah Prawoto dan diketemukan “dokumen-dokumen tertentu“. Juga Djenamar Adjam dari Departemen Luar Negeri, seorang yang dekat hubungannya dengan tokoh-tokoh Masyumi kabarnya telah ditahan. Tokoh-tokoh PRRI seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara Burhanuddin Harahap, Assaat dan lain-lain dipindahkan dari Sumatra ke Cipayung. Di sana mereka ditahan untuk mendapat indoktrinasi Manipol-Usdek. Beberapa hari lalu Drs. Tan Goan Po dibebaskan dari karantina politik di Cipayung tempat dia ditahan selama tujuh minggu untuk memperoleh indoktrinasi.

Goan Po mendengar di Cjpayung ada beberapa tokoh berat PRRI-Permesta termasuk wewenang Presiden Sukarno untuk ditentukan bagaimana nasib mereka seterusnya, di kota mana mereka akan diizinkan tinggal. Yang jelas salah satu syarat untuk dibebaskannya tokoh-tokoh PRRI dari Cipayung ialah “tidak dibolehkan lagi bekerja pada jawatan pemerintahan.”

Suasana Politik Tetap Didominasi oleh Masalah Irian Barat

Dari tanggal 12 hingga 18 Februari telah berkunjung ke Indonesia Jaksa Agung AS Robert Kennedy, adik Presiden Kennedy. Presiden Sukarno menyatakan padanya, “Sikap Belanda salah“. Robert Kennedy bukan mediator dan bukan negotiator dalam soal Irian Barat. Toh Sukarno mau menitipkan padanya pandangan Indonesia tentang soal Irian Barat.

Presiden telah mengutus Laksamana Muda Udara Omar Dani ke Moskow untuk menyampaikan terima kasih Presiden atas pernyataan pemerintah Uni Soviet yang membantu Indonesia dalam soal Irian Barat .

Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jepang mengadakan demonstrasi baru-baru ini terhadap gedung Kedutaan Besar Belanda di Tokio sebagai protes terhadap kenyataan masih terus mengalir militer Belanda ke Irian Barat  dengan  memper gunakan  pesawat  terbang KLM dan pelabuhan udara  Tokio dengan  menyamar  sebagai orang preman. Di Surabaya terjadi demonstrasi terhadap rumah Konsul Amerika Serikat ‘dan

Konsul Jepang. Usaha-usaha U Thant di PBB tampaknya menghadapi jalan buntu. Tiada lagi kedengarah dia mengadakan perteinuan-pertemuan dengan wakil Belanda atau wakil Indonesia di PBB. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal.173-174.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*