ABRI PERLU ADA REORIENTASI DAN REEVALUASI

ABRI PERLU ADA REORIENTASI DAN REEVALUASI [1]

 

1 April 1965

 

Sudah agak lama juga tidak terdengar banyak dari kalangan Angkatan Bersenjata. Karena itu saya menaruh perhatian pada peristiwa pembukaan Seminar Angkatan Darat bertempat di Seskoad di Bandung yang diikuti oleh kurang lebih 250 perwira tinggi dan menengah. Menteri/Pangad Letjen Yani berbicara di sana dan ia mengatakan antara lain: “Angkatan Bersenjata perlu ada orientasi dan reevaluasi untuk memastikan apakah posisi Angkatan Bersenjata, khususnya Angkatan Darat dalam aparat revolusi, apakah perjuangan dan bagaimanakah membina alat revolusi itu”.

Tujuan seminar ialah menemukan “doktrin perang revolusi”, yang konsepsional sebaik baiknya. Dalam pengertian istilah Barat perang revolusi itu diasosiasikan dengan komunis akan tetapi kita jangan dihinggapi oleh phobi demikian karena perang revolusi itu ialah menentang Nekolim jika dipaksakan, kata Yani.

Hanya inilah yang saya catat sebab keterangan-keterangan Yani lainnya lebih banyak bersifat platitudes atau ungkapan­ungkapan umum serta klise. Ini juga menunjukkan re-evaluasi dan re-orientasi merupakan usaha sia-sia belaka.

Hari ini tersiar berita rumah Bill Palmer di Gunung Mas dekat Puncak telah diambil alih oleh sejumlah rakyat dan pemuda yang mengambil alih ialah golongan kiri yang sejak beberapa waktu ini melancarkan kampanye terhadap film-film Amerika supaya dihentikan pemutarannya. Bill Palmer ialah Kepala AMPAI (American Motion Pictures Association in Indonesia).

Gedung AMPAI diambil alih oleh tidak kurang dari 1.500 pemuda, artis dan pekerja pada tanggal 16 Maret lalu. Para pemuda itu menuntut kepada pemerintah supaya AMPAI segera dibubarkan dan Bill Palmer diusir atau ditangkap dan di adili karena dia seorang agen CIA di Indonesia. Perusahaan Amerika yang tergabung dalam AMPAI yang harus dihapus di Indonesia ialah Warner Bross, United Artist, Twentieth Century Fox, Universal International, Colombia, Paramount, MGM dan Allied Artists. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 507-508.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*