17 ANGKA KERAMAT

17 ANGKA KERAMAT [1]

 

23 April 1962

Presiden Sukarno mulai bekerja selaku Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia. Pada Hari Kartini yang lalu ia mengumumkan susunan staf komando tertinggi operasi ekonomi itu. Ir. Djuanda diangkat sebagai Wakil I Panglima Besar, Dr. Subandrio sebagai Wakil II, sedangkan sebagai Kepala Staf diangkat Mr. Sumarno, Gubernur Bank Indonesia, dengan Dr. Leimena sebagai Deputy Kepala Staf. Keempat orang ini dimiliterisasikan. Selanjutnya diangkat 13 orang sebagai anggota staf yang dibagi dalam tiga golongan atas dasar tugas yang diberikan kepada mereka yaitu golongan perencanaan,.golongan pelaksanaan dan golongan pengawasan. Sukarno menunjukkan jumlah pejabat yang diangkat seluruhnya adalah 17 orang.

Rupa-rupanya angka 17 itu merupakan magic number atau angka keramat, seolah-olah dengan begitu kesulitan kesulitan ekonomi sekarang akan gampang saja teratasi?

Tindakan kedua yang dijalankan oleh Presiden ialah instruksi tentang pemungutan padi secara gotong royong yang disiarkan depan corong RRI tanggal 22 April  lalu. Presiden menyatakan dalam tahun 1962 ini produksi padi kering harus mencapai 2 juta ton. Dari jumlah itu 3 juta ton harus.dapat dikumpulkan oleh organisasi pembelian padi pemerintah. Harga ancer-ancer sekarang. telah dinaikkan dengan lebih kurang Rp 1000,00 tiap kwintal.

Sampai dimana kenaikan harga pembelian padi oleh pemerintah itu mendapat sambutan baik dari para petani harus dilihatkan dahulu. Saya dengar di daerah Priangan ongkos produksi untuk satu kwintal padi sudah berjumlah Rp 2.000,00 sehingga jika harga pemerintah berada di bawah itu sudah barang tentu tidak ada perangsang bagi petani untuk menjual padinya. Belakangan ini petani di daerah itu mendapat Rp 3.000,00 per kwintal sehingga petani dapat bernafas agak lega sedikit .

Hari ini saya dengar Presiden tanggal 21 April lalu di Bogor memberitahukan kepada Duta Besar Inggris Sir Leslie Fry dia membatalkan kunjungan kenegaraannya ke  Inggris yang direncanakan akan terjadi tanggal 7 Mei yang akan datang. Apa alasannya tidak jelas.

Beberapa waktu lalu tersiar cerita Nyonya Hartini yang bersama Mulyadi hendak naik haji direncanakan akan bergabung dengan Sukarno di Pulau Cyprus sehabis kunjungan kenegaraan ke Inggris. Sesudah itu akan dikunjungi beberapa negara Eropa seperti Finlandia, lalu lewat Kutub Utara akan disinggahi Jepang dan Hongkong. Kini rencana itu batal karena Presiden meminta kunjungann ya ke London ditunda . Apakah semua ini bertalian dengan masalah Irian Barat? Ataukah karena dia mendapat nasihat dari dukunnya supaya dia jangan dahulu pergi dari Jakarta  menuju ke luar negeri? Wallahua’lam.

Berbicara tentang dukun saya mencatat kisah berikut. Apakah sebabnya Presiden memerintahkan kepada Dewan Pariwisata untuk membangun sebuah hotel di Pelabuhan Ratu padahal menurut sebagian kalangan Dewan Pariwisata tempat tersebut sama sekali tidak tepat untuk mendirikan hotel yang besar bagi turis? Sebabnya ialah karena seorang  dukun di Cikotok yang nasihatnya biasa diminta oleh Presiden telah mengatakan kepada Presiden supaya sebuah hotel didirikan di Pelabuhan Ratu. Dan karena Sukarno merasa berhutang budi kepada dukun itu , maka keluarlan perintah tadi. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 211-212.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*