“IDEE NASAKOM di BIDANG KEBUDAYAAN”

“IDEE NASAKOM di BIDANG KEBUDAYAAN” [1]

 

26 Juni 1963

 

Sitor Situmorang, Ketua Umum LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) pada tanggal 25 Juni lalu berbicara di depan konferensi nasional Kebora SOBSI. Ia menyatakan:

“Sebagaimana juga di sektor politik, maka di sektor kebudayaan arus progresif menemukan arus lawan yang bersifat reaksioner”.

Dengan kegagalan kaum reaksioner di bidang politik, sementara ini pengikut-pengikutnya tidak tinggal diam untuk mencoba mengorganisasikan dirinya dengan menumpangi kekuatan­-kekuatan politik avonturis dan oportunistis yang tidak punya massa kecuali di kalangan bekas-bekas partai yang terlarang serta birokrat-birokrat yang berhasil mendapat pangkat dan kekuasaan serta kekayaan dari pangkat-pangkat itu (kapitalis birokrat).·

Sitor berkata:

“Terhadap peristiwa rasialisme (peristiwa 10 Mei di Bandung) kalau tidak langsung bertanggung jawab mereka berlagak” lempar batu sembunyi tangan”.

“Dukungan” mereka terhadap Pancasila yang revolusioner dan teori­ teori “universal humanis” tak menanamkan kebencian terhadap kebiadaban itu dan inteleknya tak menyadarkan mereka tentang hubungan yang nyata dari hal itu dengan imperialisme”.  Sitor menganjurkan gagasan Nasakom (Nasionalis-Agama­Komunis) di bidang kebudayaan. Ia mengidentifikasikan gerakan anti komunis di bidang kebudayaan bermarkas besar di Eropa Barat yaitu “Congress for Cultural Freedom” (Kongres untuk Kemerdekaan Kebudayaan). Di Asia gerakan ini berpusat di India. Dalam hubungan ini Sitor menyebut nama Wiratmo Sukito “seorang penulis artikel di Indonesia” yang bersikap anti komunis.

Melihat semua ini saya tidak heran mengapa harian komunis Harian Rakyat memberitakan tanggal 26 Juni ini di halaman mukanya berita dengan judul : “Sitor mengecam komunisto-phobi di bidang kebudayaan”. Di waktu belakangan ini Sitor Situmorang aktif sekali menghantam orang-orang bekas PSI dan Masyumi dan dalam hal itu dia berlaku persis seperti PKI.

Apakah ini ada hubungan dengan akan berlangsungnya sidang Komite Eksekutif Pengarang-pengarang Asia­-Afrika di Denpasar tanggal 16 – 21 Juli yang akan datang dengan dihadiri oleh 23 negara anggota? Hal ini bukan mustahil. Komite Nasional Indonesia Untuk Konferensi Pengarang Asia-Afrika (KPAA) itu mempunyai anggota-anggota : Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Joebaar Ayoeb, Rivai Apin, Dodong Djiwapradja, Utuy Tatang Sontani dan Samadjaja. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 374-375.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*