Pimpinan Pesantren Dikubur Hidup-Hidup: Kesaksian KH Achmad Daenuri

Pimpinan Pesantren Dikubur Hidup-Hidup[1]

(Kesaksian KH Achmad Daenuri)[2]

 

H Achmad Daenuri adalah pimpinan Pondok Pesantren Ath Thohirin , Mojopurno, Magetan. Ia adalah salah satu putra KH Soelaiman Zuhdi Affandi yang sebelumnya memimpin Pondok Pesantren Ath Thohirin hingga akhirnya menjadi korban kekejaman PKI 1948. KH Soelaiman Zuhdi Affandi meneruskan kepemimpinan pesantren tradisional yang sebelumnya dipimpin  ayahnya, Kiai Affandi. la adalah penerus generasi Ath Thohirin yang dikenal sangat disegani pemerintah pendudukan Belanda maupun Jepang.

Dalam perang pergerakan  melawan  Belanda dan Jepang, menurut Achmad Daenuri, pesantren ini dimanfaatkan sebagai pemusatan latihan generasi muda. Oleh almarhum ayahnya, para pemuda itu dilatih perang dan diisi dengan ilmu kanuragan hingga tidak mempan (kebal) senjata.

Pada 1948, KH Achmad Daenuri berusia sekitar 10 tahun. Ia melihat ayahnya, K.H Soelaiman Zuhdi Affandi, ditangkap secara keji oleh PKI. la diringkus PKI dengan cara licik. “Ketika beliau sedang ‘itikaf di  Masjid, dibopong dari belakang dan diculik.” KH Soelaiman Zuhdi diseret-seret dan kemudian disekap bersama ratusan tawanan lain, umumnya tokuh agama dan partai, di rumah loji Belanda di kawasan Pabrik Gula Gorang-Gareng (kini Pabrik Gula Rejosari)..

Dari tempat penyekapan ini, K.H Soelaiman Zuhdi Affandi bersama sejumlah tawanan itu di pindahkan ke Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan menggunakan sarana angkutan kereta api lori pengangkut gula dan tebu. Gerbong kereta sangat sempit dan dijejali puluhan tawanan lain.

KH Achmad Daenuri mendapat kesaksian tentang kematian ayahnya dari beberapa tawanan lain yang selamat. Selama dalam penyekapan itu, ayahnya mendapat perlakuan yang sangat keji yakni disiksa dengan berbagai cara. Namun, penyiksaan itu tidak juga mampu membunuh K.H Soelaiman.

PKI jengkel menghadapi Kiai yang demikian digjaya, tidak mempan senjata tajam apapun dan bahkan kebal peluru senjata api. Karenanya, pada suatu kesempatan, ketika Beliau meminta izin untuk mengambil air wudlu, salah seorang anggota PKI mendorong Beliau hingga tercebur ke dalam sumur. Segera setelah itu, sumur ditimbun dengan puluhan hingga ratusan jenazah lain dari para syuhada. KH Soelaiman Zuhdi Affandi, dikubur hidup-hidup oleh PKI,” papar KH Achmad Daenuri.

Sebelumnya diketahui bahwa jumlah syuhada yang dikubur di beberapa sumur pembantaian di Desa Soco adalah 67 orang, dan telah diketahui nama-namanya. Namun, setelah sumur kemudian dibongkar, temyata ditemukan 108 kerangka jenazah. Kerangka jenazah dievakuasi dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kota Madiun. Para syuhada dikuburkan kembali dalam satu liang lahat, dan diberi prasasti dengan sebutan Makam Soco. Prasasti atau nisan besar ini memuat 67 nama para syuhada, sedang 41 kerangka korban lainnya, dengan nomor urut 68 hingga 108, dinyatakan tidak dikenal.

Pada prasasti nisan makam massal di Taman Makam Pahlawan Madiun, nama KH Soelairnan Zuhdi Affandi tertulis pada urutan ke-12. Pada urutan pertama adalah Soehoed, ayah dari Letjen (Purn.) M. Kharis Suhud–mantan Ketua DPR/MPR RI pada  1988-1993.

Menurut KH Achmad Daenuri, dari keluarganya tidak hanya ayahnya yang telah menjadi korban kekejaman PKI 1948, tetapi jug a tiga orang Pak De  (kakak-kakak  KH  Soelaiman  Zuhdi A ffandi), dua orang Paman (adik-adik KH  Soelaiman  Zuhdi A ffandi) dan tiga orang keponakan (anak-anak paman).

Kakak-kakak dan adik-adik KH Soelaiman Zuhdi Affandi yang menjadi korban kekejaman PKI adalah :

  1. KH Hamzah (kakak), tinggal di
  2. K H Abdul  Malik   (kakak),  tinggal  di  Desa   Sewulan, Kecamatan Dagangan,  Kabupaten
  3. Kiai Karim (adik), juga  tinggal di Desa Sewulan.
  4. KH Zocbeir (kakak), tinggal di Desa Selopuro, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun .
  5. KH Imam Sofwan (adik), juga tinggal di Desa

Kakak dan adik KH Soelairnan Zuhdi meninggal dibantai dengan keji oleh PKI. KH Hamzah misalnya, saat mendengar terjadi pemberontakan PKI di Madiun, ia berniat bertandang ke Magetan . Tetapi, ketika mencapai Desa Batokan-sebelah timur Mojopurno–dihadang PKI. KH Hamzah diseret dan disekap tanpa diberi makan. Ia kemudian dikubur hidup-hidup di tempat penawanan di Desa Batokan, tak jauh dari lokasi penangkapan.

Makam KH Hamzah tidak dipindahkan, hingga sekarang tetap berada di tempat aslinya, dan sangat dihormati masyarakat serta para peziarah yang umumnya datang dari jauh.

KH Zoebeir dibunuh di pesantrennya di Desa Selopuro. Di sini, tewas pula adiknya, yaitu KH Imam Sofwan dan dua orang putramya : Muhammad Bawani dan Muhammad Zubair. Sedangkan satu lagi putranya, Djazuri, yang tinggal terpisah di Desa Gatak, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, juga diculik dan akhirnya ditemukan tewas di tangan PKI.

Achmad Daenuri kini memimpin Pesantren Ath Thohirin yang juga mengajarkan tariqat. Pesantren ini tidak hanya menjadi saksi kekejaman komunis di tahun 1948, tapi juga ikut menjadi sentra pelawanan terhadap pemberontakan PKI 1965. Ketika pecah G.30.S/PKI 1965, pesantren ini menjadi pusat konsentrasi para pemuda GP Ansor untuk menyiapkan diri menghadapi PKI. Lokasi pesantren yang tersembunyi di sebuah wilayah pedesaan, menurut Achmad Daenuri, sangat cocok untuk dijadikan kantong bagi  usaha menyusun strategi perlawanan dan pemusatan latihan para generasi muda anti-komunis.

“Kami bukan mendendam, karena para leluhur kami dihabisi PKI. Tapi komunis adaiah lawan kami yang senyata-nyatanya. Karena komunis secara jelas menyatakan anti-agama dan anti-Tuhan . Untuk melawan  komunis,  kami  harus  senantiasa  berada di barisan depan. Itu tidak dapat ditawar lagi.  Karena  itu, jika Anda hendak melawan komunis, ajaklah kami.” kata KH Achmad Daenuri   bersemangat.

[1]    Dikutip dari buku “KESAKSIAN KORBAN KEKEJAMAN PKI 1948, Kesaksian KH. Roqib “, Komite Waspada Komunisme, Jakarta:2005, hal 23-36

[2]    H Achmad Daenuri adalah pimpinan Pondok Pesantren Ath Thohirin , Mojopurno, Magetan