Pembersihan Sisa-Sisa Pemberontak PKI Madiun di Jawa Timur (1): Pembersihan di Daerah Blitar dan Malang Selatan

Pembersihan Sisa-Sisa Pemberontak PKI Madiun di Jawa Timur (1): Pembersihan di Daerah Blitar dan Malang Selatan [1]

Daerah di sekitar Blitar, terutama di Blitar Utara dan Blitar Selatan, sisa-sisa pemberontak masih melakukan pelbagai aksi. Di Blitar Utara pasukan PKI memusatkan kekuasaannya di daerah Nglegok, dan Blitar Selatan di daerah Lodoyo.

Pada dasarnya aksi-aksi yang dilakukan di daerah Blitar ini tidaklah sebesar seperti yang terjadi di Madiun, tetapi akibatnya tidak ringan, karena banyaknya korban yang jatuh baik dari pasukan pemerintah maupun tokoh-tokoh masyarakat. Oleh karena itu Panglima Divisi I Kolonel Soengkono memerintahkan pasukan TNI (hijrah) dari Besuki (Brigade I) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Moeh. Sruji, untuk melakukan operasi pembersihan terhadap sisa-sisa kekuatan PKI di daerah Blitar, terutama yang bersembunyi di perkebunan-­perkebunan di daerah itu. Untuk mengkoordinasikan seluruh kekuatan di Blitar, Letkol Sruji membentuk Gabungan Angkatan Perang (SGAP), dengan tujuan untuk menyatukan komando. Sedangkan untuk operasi pembersihan di Blitar Selatan Panglima Divisi I selaku Gubernur Militer I memerintahkan kepada Komandan Mobiele Brigade Besar Jawa Timur Komisaris Polisi M Jasin. Untuk operasi ini dikerahkan dua batalyon yaitu Batalyon Wirato dan Batalyon Soekari, dan beberapa orang Perwira Staf yang diperbantukan seperti Banoe Fatakoen, Soepardjo, Abdul Raehim, dan Soetopo.[2] Tugas yang diberikan oleh Panglima adalah membersihkan sisa-sisa batalyon Pesindo yang bersembunyi di daerah itu.[3]

Mengapa PKI masih bersembunyi di Blitar, karena kota Blitar merupakan pusat pemerintahan daerah Jawa Timur. Bagi PKI kota Blitar mempunyai nilai politis, militer dan ekonomis yang besar. Dari segi militer daerah Blitar menguntungkan karena medannya cocok untuk berperang seeara gerilya, sekalipun tidak direncanakan sebagai basis pengunduran.[4]

Kota Blitar sendiri adalah tempat berputarnya roda pemerintah Jawa Timur. Para pejabat-pejabat penting Jawa Timur yang bertempat tinggal di Blitar antara lain Gubernur Jawa Timur, Dr. Murdjani, Kepala Kepolisian Jawa Timur, Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, Komisaris Polisi Moh. Jasin.

Sebelum meletusnya pemberontakan, PKI sudah mulai melancarkan aksi-aksinya untuk mempengaruhi rakyat dengan menyebarkan pamflet yang isinya menentang program rasionalisasi. Akibatnya situasi di dalam kota Blitar memanas.

Perubahan situasi ini rupanya selalu dimonitor oleh Komandan Mobiele Brigade Besar Jawa Timur Komisaris Polisi Moh. Jasin. Terdapat bukti-bukti bahwa pasukan PKI telah melakukan perlucutan senjata terhadap pos-pos Polisi, Markas-markas Kepolisian dan pasukan Brigade Mobil di Kediri. Sesudah meletusnya pemberontakan, Moh. Jasin mulai bertindak melucuti pasukan PKI yang ada di Blitar. Pada tanggal 19 September 1948 pukul 04.30 dini hari, ia memerintahkan anak buahnya dari Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur untuk melueuti pasukan Brigade XXIX yang berada di Hotel Lestari, dilanjutkan dengan penangkapan oknum PKI Blitar. Perlucutan ini dilaksanakan dengan tiba-tiba sehingga pasukan PKI tidak sempat untuk melawannya.

Patut dicatat di sini bahwa hasil yang dicapai Moh. Jasin dengan anak buahnya ini, membawa pengaruh yang positif yang dapat menaikkan semangat pasukan RI di Jawa Timur dalam menumpas pemberontakan PKI Madiun.[5] Pada hari berikutnya tanggal 20 September 1948 dilakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh FDR/PKI di Blitar. Tindakan itu dilanjutkan dengan pembersihan oknum-oknum PKI yang menjadi aparatur pemerintah. Pemerintah RI mengambil tindakan dengan memecat pejabat-pejabi daerah Blitar yang terlibat pemberontakan.[6] Dalam laporannnya kepada Presiden RI di Yogya, Kolonel Soengkono selaku Gubenur Militer I, menjelaskan bahwa keadaan di Blitar telah aman, dan para pemimpin PKI telah ditangkap.[7]

Di daerah Malang Selatan pelaksanaan operasi pembersihan sisa-sisa PKI diperintahkan kepada Brigade 2 di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dr. Soedjono sekaligus mengembalikan stabilitas pemerintahan, di samping menjalankan tugas pertahanan di sektor tersebut.[8]Dalam tugas itu, Brigade ini pernah terlibat pertempuran dengan sisa-sisa pasukan PKI bekas Brigade XIII Pesindo, yang Akhirnya berhasil dilucuti.[9]

Sementara itu pada medio Oktober 1948 Letnan Kolonel Sruji melaporkan dari Blitar kepada Markas Besar Angkatan Perang (MBAP), bahwa operasi terhadap sisa-sisa gerombolan pemberontak belum selesai, tetapi pimpinan pemberontak telah berhasil ditangkap.[10]

Dari Brigade ini dua kompi dari Batalyon Soedirman di bawah perintahkan ke Brigade 2, yaitu Kompi Suwardi yang kemudian dikirim ke Tulungagung dan Kompi Soemarto diperbantukan ke daerah Nganjuk sampai perbatasan daerah Bojonegoro, kemudian dipindahkan ke Madiun dan Ponorogo, sedangkan Batalyon Depot (Darsan Iroe) bertugas di daerah sekitar Jengkol, Gurah dan Pare.[11]

***

[1] Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2] Pinardi, Peristiwa Coup Berdarah PKI September 1948 di Madiun, Inkopak.Hazera, Djakarta, 1967, hal. 131

[3] Asmadi, Sangkur dan Pena, Indira, Jakarta, 1980, hal. 216 – 219

[4] Pinardi, op. cit., hal. 135 – 136

[5] Pinardi, ibid, hal. 137

[6] Soeloeh Rakjat, 4 Oktober 194

[7] Soeloeh Rakjat, 14 Oktober 1948

[8] Semdam VIlI/Brawidjaja, Sedjarah Militer Kodam VIII/Brawidjaja, Malang, 1968, hal. 164

[9] Min Pao, 7 Oktober 1948

[10] DR. A.H. Nasution. op. ,it., hal. 377

[11] Semdam VIII/Brawidjaja, op. Cit., hal.193 – 195